Senin, 24 Desember 2012

Pelangi di Malam Hari part 2


December 17th, 2012
Happy Birthday ICHAAAA..
Hari ini hari ulang tahun Icha, dimana bombot(pacar icha) telah mempersiapkan hadiah untuknya. Hadiah apakah itu? Sesuatu yang benar-benar diimpikan saat kita ulang tahun. Ya, kue tart! Kue tartnya kali ini sudah dihias sedemikian rupa agar terlihat bagus♥ kue tart itu bertuliskan “Happy B’day ICHA J” semua sudah siap, namun bombot tak kunjung datang ke rumahku. Lamaaa menunguuu..
Rupanya, dia baru saja selesai mandi. Dan ternyata, dia berada di rumah Iqbal. Katanya sih, Iqbal sama Ardi sama-sama belum mandi(?) Weng. Padahal Icha setelah ini mau mengajak makan malam, ada traktiran rupanya. Setelah maghrib, semuanya telah siap. Kamipun berangkat mengendarai sepedah motor masing-masing.
Namun, rupanya kali ini ada kabar buruk. Aku dan Icha kehilangan jejak mereka. Icha ngebut sih-__- aku menyuruh Icha untuk menepi. 5 menit kemudian, kami masih saja tak menemukan mereka.
“Apa balik aja ya?” kata Icha terhadapku.
“Ya sudah, ayo!”
Icha mulai menancapkan gasnya lagi. Memutar balik ke arah sebelumnya.
“Nesa, kamu lihat kanan jalan ya,” katanya dengan nada sedikit kecewa.
“Iya cha, aku lihat kanan jalan kok. Kamu konsentrasi ke jalan aja. Soalnya kamu yang nyetir-__-“ Icha hanya mengangguk.
Dalam batinnya, ia sangat tersiksa.
“Mengapa harus berpencar seperti ini?” namun, aku hanya membiarkannya agar tak memancing emosinya.
“Icha, putar balik! Itu Iqbal sama Mas Afif,” kataku dengan melihat ke arahnya terus. Kali ini, aku tak ingin kehilangan mereka (lagi).
Icha meretting kendaraan kami, namun Icha marah terhadapku.
“Lho nesa, mana?”
“Di depan cha!”
“Mana sih? Gak ada gitu?”
“Ada cha, di depan! Buruan~”
Icha mempercepat laju kendaraan, seolah dia tahu maksudku. Aku tak ingin berpencar seperti ini lagi! Akhirnya, kami pun pergi ke tempat yang sudah ditentukan Icha. Namun sepertinya, kali ini bukan Icha yang memutuskan. Mas Afif! Iya, dia yang memarkirkan sepedah motornya di daerah Losari. Tau gak kalau disana makanannya mahal-mahal? Halooo-_-
Icha disibukkan oleh memilih tempat makan dan bukan hanya itu, dia disibukkan pula oleh Bombot. Aku tak tahu mereka membicarakan apa. Yang aku tahu, aku hanya tak boleh mendengar percakapan mereka. Di samping itu, ketiga cowok kita yaitu: Mas Afif, Iqbal, dan Ardi sedang asyik berfoto-foto. Bayangkan saja, aku sangat bosan dengan keadaan itu. Ayolah, saat ini aku sedang tak enak badan. Tolong jangan biarkan aku sendirian.
Tak lama, Icha menghampiriku. Untunglah dia paham dengan keadaanku saat ini. Aku menunggu mereka di parkiran, aku hanya duduk terdiam. Bahkan aku tak sadar jika kue tart yang tadinya di pegang Bombot telah jatuh. Dia menaruhnya di sebelahku. Maaf, sungguh aku tak sadar. Dengan cekatan dia mengambilnya. Dengan spontan, aku meminta maaf kepada Icha. Namun, Icha tetap saja tak mengerti apa maksudku. Karena aku hanya meminta maaf tanpa menyebutkan apa permasalahannya.
Aku meminta maaf ke Bombot, namun tak didengar. Dengan wajah yang sedikit muram dan marah aku mengajak Icha untuk membeli obat di toko seberang. Awalnya, Icha menolak karena dia ingin Iqbal yang membelikan aku. Namun… aku menolak jika dia yang membelikan aku. Aku menarik Icha dengan segera. Di perjalanan menuju toko itu, aku sempat memarahinya.
“Icha, please aku nggak mau kamu mojokin aku sama Iqbal. Udahlah, lagian aku sudah menjalin hubungan dengan Vicko! Tuhan, kenapa selalu begini? Kalau aku mau pergi dari kehidupan Iqbal, pasti Iqbal bakalan muncul lagi kayak gini. Aku bosaaann!” kataku kepadanya.
“Ya sudahlah, sabar. Oh ya, kamu beli tolak angin berapa?”
“Satu aja.”
Tanpa basa-basi Icha lalu membelikanku tolak angin. Eits, flashback dulu ya! Tadi, waktu Icha nyuruh Iqbal untuk membelikan obat untukku dia berasa kaget dan aneh. Apakah ia khawatir terhadapku? Apakah masih ada rasa itu untukku? Aku sempat tersenyum untuk melihat wajahnya yang sedikit khawatir terhadapku. Namun, sudahlah aku hanya bayang-bayang penghalang untuknya.
Langkahku begitu berat, badanku terasa panas tapi untunglah obat yang tadi aku minum membuatku sedikit baikan. Aku ingin membuktikan kepada Icha, aku menarik tangannya dan dengan sengaja aku menaruh tangannya di leherku.
“Nesa, kamu panas?”
“Iya, tapi gak apa-apa kok! Ayo cepetan makan, terus pulang.”
Ia tetap berjalan menyusuri sudut-sudut kota. Namun, ia berhenti di depan lapak penjual nasi goreng yang dulu pernah kami kunjungi.
“Makan nasi goreng aja gimana?”
“Ya terserah wes,” semua mengiyakan ajakan Icha.
Kami memilih tempat duduk. Hanya bangku paling depan yang masih kosong. Dan sekiranya, kami pun duduk di bangku tersebut. Kami memesan makanan. Dengan perasaan was-was akan kue tart yang telah aku hancurkan tadi, aku hanya memilih diam. Semua bercanda, namun mereka juga berfoto-foto disana. Aku tak ikut, aku hanya diam dan tak berkutik. Namun sesekali aku mengajak Icha bicara.
Kali ini, topik pembicaraannya Aku dan Iqbal. Tuhkan, paling sebel kalau dipojokkan seperti ini lagi. Kalau dulu, aku akan menerimanya. Namun sekarang? Aku telah berpacaran dengan Vicko. Aku tak mungkin bisa tertawa lepas disana.
Semua terdiam karena telah mengetahui pesanan kami datang. Tapi, kali ini mungkin lebih seru dari pada ulang tahunku kemarin. Ya sudahlah, tak mengapa. Kami menyantap makanan dengan lahap. Namun, aku lupa. Aku batuk, dan seharusnya aku tak memakan makanan yang mengandung minyak dalam jumlah besar. Tapi apalah daya, aku sudah memesannya. Berarti aku harus menghabiskan makanan itu.
Saat itu, semua sudah selesai mengecap makanan. Dan aku pun juga telah menyudahinya. Kami beranjak dari tempat duduk. Eh, ada yang lupa! Kue tartnya Icha belum dinyalakan. Dengan gaya sok cepat, aku pun menancapkan lilin-lilin kecil diatasnya dan menyalakannya.
“Icha, make a wish dulu!” kataku.
“Ayo foto!” kata Icha.
“Ayoo…” aku pun menyetujuinya.
“1…2…3.. Cheese!” kata Iqbal dengan spontan karena kami tahu dia yang memegang kamera milik Ardi.
Tiba-tiba, Mas Afif dengan sadar mencengkram kue tart Icha. Dia menghancurkannya lagi! Namun kali ini beda, dia menaruh roti yang lengkap dengan creamnya itu di muka Icha. Dengan spontan kami tertawa. Namun aku tak sadar, rupanya Icha juga ingin membalasnya. Akulah sasaran empuknya. Karena aku berada tepat di depan Icha. Tapi tak hanya aku, semua kena cream kue tart itu. Namun, hanya wajah seseorang yang masih bersih tak belepotan. Iqbal! Iya dia, betapa marahnya aku mengetahui itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengejarnya.
Kejadian itu telah menyapu keheningan malam. Kami tahu saat ini udara semakin menusuk tulang-tulang rusukku. Kami harus pulang. Tetapi aku tak mau berhenti kalau Iqbal belum kena! Yeyeye..
Aku mengancamnya. Jika dia belum kena, maka jok sepedah motornyalah yang menjadi sasaran empukku. Haha. Namun sepertinya ini sudah terlalu malam, akhirnya Icha mengambil tindakan. Dia mengejar Iqbal dan menangkapnya. Icha berbicara sedikit, namun aku tak bisa mendengarnya. Aku putuskan untuk mendekat. Kali ini Iqbal tak menolak. Aku mencolek cream yang ada di jariku ke pipinya.
“Sekali aja, Bal!”
Ia hanya pasrah dan menerima kenyataan. Haha. Lalu, dia membasuh mukanya di tempat air yang berada tak jauh dari sepedah motorku. Dia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Icha.
“Cha, happy birthday ya! Makasih lho.”
“Iya, sama-sama! Lho nggak pamitan sama Nesa tha?”
Dia hanya tersenyum malu. Aku pun juga begitu terhadapnya. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk berpamitan kepadaku. Aku pun iseng menaruh coklat di tangannya saat kita bersalaman. Dan dia hanya tersenyum dan tak mengucapkan apapun.
“Aku pulang dulu ya,” kata-katanya tak jelas di telingaku.
Namun, saat itu aku benar-benar senang bertemu lagi dengannya. Dan memegang tangannya untuk kedua kalinya. Tapi sayang, aku tahu semua itu hanya mimpi. Dan aku hanya bisa menggapainya di mimpiku. Namun tak apalah. Saat itu, aku hanya bisa berterima kasih terhadap Icha. Dan hal yang paling buruk, sepulang dari acara itu aku selalu senyum-senyum sendiri.
Iqbal, katakanlah jika kamu benar-benar menyayangiku({}) Aku selalu menunggumu♥

6 komentar: