Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Pelangiku

Sabtu, 10 November 2012
Hari ini mungkin bisa aku bilang hari yang menyebalkan. Maklum saja, tiga hari yang lalu aku telah meninggalkan sekolah tercinta. Aku sakit, YaTuhan. Aku divonis sakit maag. Parah katanya! Padahal, porsi makanku selalu banyak. Tapi memang, aku tidak terlalu memikirkan kesehatanku. Jadi, aku tak pernah teratur makan. Paling banyak sih dua kali. Sarapan pagi dan makan malam. Udah gitu, barusan masuk eh ada upacara. Payah tau gak! Tapi ya gimana lagi, sebagai generasi penerus bangsa ya mau nggak mau harus mengikuti upacara dengan khidmat.
Seperti biasanya, aku berada di barisan anak Paduan Suara. Tapi aku merasa ada yang asing disini. Aku tak melihat Iqbal di barisan kelas 9A. Biasanya sih dia baris di belakang sendiri. Dan barisan kelas 9A tepat di sebelah barisan Paduan Suara. Aku tak melihat batang hidungnya. Apa dia sakit? Aku khawatir dengannya. Tapi, apakah kemarin-kemarin dia juga mengkhawatirkanku disaat aku sakit? Aku tak memikirkan keadaanku. Aku hanya was-was dengan keadaan Iqbal saat ini. Sesaat aku terdiam, dan sepertinya Widya dan Luluk tahu akan perilaku sahabatnya ini.
Lalu dengan nada yang sedikit mengagetkanku, mereka berkata "Hey, kata Teo Iqbal peduli sama Nesaaa lhooo," dengan kata mengejek. "Heee? Iya?," akupun tersentak. "Iyaa, cie nesaaaa:p" Haha, aku tertawa dalam hati. Tapi dalam tawa itu aku bertanya-tanya. Apakah benar?
Luluk menyambung dan menyadarkanku dari lamunanku seketika "Iya, katanya Teo pas kemarin di Terminal mereka duduk-duduk disitu (mbambong istilahnya) terus Iqbal bilang kalo Nesa sakit, dia bilang ke Ardi sama Teo, katanya se gituu." "Emang kapan?" "Kemarin pas kamu nggak masuk." "Iyaaaa?" "Iya nesaaa. Ciyeee"
Akupun tak bisa menahan senyum di mulutku. Aku senaaang.
Aku tak sabar untuk menghubunginya, walau rumah kita berseberangan. Rumahnya tepat di belakang rumahku.

Sesampainya di rumaah....
Aku buru-buru mengambil hpku dan segera menekan SMS lalu ku kirim ke kontak bernama "Iqbal"
Lama aku menunggu, mungkin dia sedang tidur dan aku memakluminya.
Hpku menyala, ada SMS. Dan aku benar dari Iqbal. Dia nggak masuk hari ini karena SAKIT MATA.
Kasiannyaaaaa({})
Aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan dia.
Alasan hari ini aku masuk ya karena aku hanya ingin melihat senyum manis darinya.
Tapi sayang, saat ini matahari itu tak bersinar lagi. Langit berubah mendung.
Semangatku yang dulu membara karenanya, sekarang tak ada lagi dan meredup.
Namun, aku coba tuk bangkit.
Aku berusaha untuk mendapatkan hatinya lagi.
Aku tak ingin melepasnya untuk kedua kalinya.
Aku terlanjur menyayanginya.
Aku hanya ingin dia di sampingku.
Aku hanya ingin dia yang menemani hari-hariku.
Tuhan, aku tak ingin berpisah dengannya.
Bila kita jodoh, pertemukan kami disaat yang tepat({})
Bila kita tak berjodoh, aku hanya ingin bisa membuat dia tersenyum.
Dan bila ini pertemuan terakhir kita, aku mohon.
Izinkan aku untuk memeluknya.
Aku ingin merasakan hangatnya dekapannya.
Aku ingin merasakan sentuhan lembut dari tangannya.
Aku ingin merasakan denyut jantungnya.
Aku ingin merasa benar-benar gugup saat berada di dekapannya.
Aku ingin semua berakhir SEMPURNAA.
Aku ingin kau menjadi Pelangiku.
Selalu ada saat aku bersedih dan menjadikanku  INDAH:) 

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu

Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu


Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa


Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

Sabtu, 03 November 2012

Biarlah Dia Saja

Kita sahabat, memang kita sahabat. Aku tahu dan aku paham akan semua tingkahmu. Kamu sahabat terbaikku. Awalnya hanya iseng, namun aku mulai sayang dan menganggapnya menjadi sahabatku sendiri. Kami mulai akrab semenjak saat kita keluar bareng. Sudah tiga kali mungkin. Yang pertama ke MOG bersama kedua sahabatku. Luluk dan Widya. Awalnya memang iseng untuk mengajaknya. Namun tak apalah. Toh, dia juga mau.
Hal yang paling menyebalkan saat Luluk dan Widya mencoba untuk kabur dariku. Mereka memang suka begitu. Memasang-masangkan sahabatnya ini. Karena mereka tahu kalau aku dan dia sama-sama single. Tapi akukan lagi kasmaran sama sahabatnya sendiri. Nggak mungkin dongg kalo aku suka sama sahabatnya ini. Haha, rumit deh! Awalnya kami berdua hanya berdiam, namun dia memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Kamu nggak ngajak Iqbal?" katanya. "Udah tak ajak tapi dari tadi hpnya mati. Nggak tahu kemana," jawabku dengan muka melas. "Coba smsen lagi a! Ajaken kesini," dengan nada sedikit memaksa. "Iyawes." Beberapa menit kemudian hpku bergetar dan rupanya dia sudah membalas pesanku. "Nesa, maaf aku nggak bisa keluar sekarang. Soalnya aku lagi sama papa. Nyari tiket Arema. Nyari dimana ya say? Dari tadi nggak dapet-dapet." Aku mendesah. Nggak bisa lagi nggak bisa lagi. Keluhku dalam hati. "Yawes sayang, hati-hati. Gapapa wes kamu nggak ikut. Tapi lain kali bisa kan?" Tombol kirim segera ku pencet. Namun tak ada laporan pegiriman. Hpnya mati lagi rupanya. Aku memelas agar sahabatku satu ini bisa membujuk Iqbal untuk pergi jalan-jalan ke MOG bersama kami. Karena mereka satu kelas. Namun dia berkata "Gak iso nes, hpne mati." "Walaaaaah, yaweslah terserah." Lalu sahabatku ini bertanya lagi. Dia memang orangnya kepo sekali.
Dia: "Lho, kamu nggak pernah keluar sama dia tha?"
Aku: "Mek satu kali."
Dia: "Satu kali? Yang bener?"
Aku: "Iya bener."
Dia: "Emang kemana?"
Aku: "Ke Matos lhooo"
Dia: "Lapo?"
Aku: "Dia ngajak ke rumah hantu." Dia terdiam seketika. Akupun melanjutkan ceritaku. "Tapi sayangnya aku nggak ikut masuk. Dia sama Irfan. Pas itu aku sama adek kelasku. Huaaa, nggak jadi kencan wes. Tapi irfan e mesti nggudo terus ae."
Dia: "Lho lha kamu kok ambek adek kelas? Emang habis lapo? Hahaha, irfan yokpo lek nggudo?"
Aku: "Pas itu ada latihan gabungan di SMP 4. Yawes tha, timbang aku sendirian. Akhir e aku ngajak dia ke matos. Irfan lho ngomong lek aku pacaran sama Iqbal. Padahal yo enggak."
Dia: "Lho iyo a? Aku tahu e kalian wes jadian. Lha smsmu ambek Iqbal lho sayang-sayangan ndek sms. Anak sekelas tahu semua."
Aku: "Iyo a yo? Gendeng-___-"
Pembicaraan itu terhenti saat Luluk dan Widya berada di depan kami.

Setelah itu, pertemuan kedua kami saat Ulang tahunku. Itu sudah aku jelaskan di posting yang sebelumnya. Saat itu, aku benar-benar yakin kalau dia sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dan disaat itu pula, aku dengan Iqbal keluar kedua kalinya juga. Senang sih, asik.

Yang ketiga, dia mengantarkanku pulang ke rumah saat sepulang les. Awalnya aku hanya iseng untuk menyuruhnya menungguku. Karena dia juga ada tambahan les malam saat hari Selasa dan Kamis. Tak menyangka sebenarnya. Tapi, tak apalah. Hanya sekali ini saja. Di sepanjang jalan pulang, dia bercerita banyak tentang pacarnya yang memang banyak sekali masalah. Yang masih aku ingat. Dia cemburu karena pacarnya sedang keluar dengan mantannya. Pacarnya dibonceng oleh cowok lain. Dan dia merasa sangat cemburu dan ingin mencoba balas dendam dengan mengantarkanku pulang.
Bodohnya dia, dia bilang ke pacarnya. Kalau saat itu aku sedang diboncengnya. Bodoh, bodoh sekali. Aku sahabatnya yang bodoh. Karena aku dianggap sebagai pelampiasannya. Hih! Mangkel.
Tapi, saat itu aku merasa senang bisa bercerita banyak dengannya. Namun, sepertinya kejadian itu tak aka terulang lagi. Ya, mereka sedang dilanda masalah LAGI!
Lagi-lagi dia melampiaskan semua kepadaku. Dengan cara tidak pernah menghubungiku. Smspun jarang. Kalau dulu sering telpon-telponan, sekarang hampir tidak pernah.
Lagian aku paling bete, kalo ketemu dia. Nggak pernah nyapa. Di sms cuek. Yawes, aku menghindar aja dari pada bikin ulah.

Beberapa minggu kemudian, Icha disms olehnya. Katanya, "Mana nesa, kok nggak pernah sms aku lagi? Aku kangen dia he."
Aku shock, weeng? Apakah dia masih ingat denganku?
Tanyaku dalam hati. Ichapun mengerti apa maksudku. "Aku lho ya gatau. Moro-moro dia sms aku gitu. Yawes ta tak balesi."
Aku: "Emang kamu mbales apa?"
Icha: "Gini, kamu lho kok tiba-tiba datang nyari nesa? Kemarin kemana aja? Dia marah sama kamu. Soalnya, dia itu ngiranya kamu datang sebagai pendampingnya dia. Trus tiba-tiba kamu ngilang. Trus tiba-tiba nyari dia lagi. Dia udah nglupain kamu."
Aku: "Terus dia bales apa?"
Icha: "Iya taah? Masak se? Sama mimik wajah yang kayak gimana gitu. Kayaknya di nyesel deh."
Aku: "Iya a? Terus gimana?"
Icha: "Yawes, aku nyuruh dia buat nyapa kamu. Lha emang selama ini kamu ngomong kalo dia nggak pernah nyapa lagi. Iya kan?"
Aku: "Iyase chaa. Terus juga jarang sms. Lek sms mesti mek butuh e tok. Aku terus sing sms dia duluan."
Icha: "Iya nes. Aku udah nyuruh dia gitu."
Aku: "Yawes, eh tapi yaaa ngomong-ngomong kamu kok sms dia kek gitu se? Alasanmu lho? Aku nggak sayang dia. Cuma pengen jadi sahabat terus aja."
Icha: "Halah, iya apa iya? Jangan bohong nesaaa:p"
Aku: "Ah, ichaaa. Beneran deh. Aku tuh cuma gak mau dia pacaran sama anak itu."
Icha: "Iya nes. Sama, kayaknya dia cuma dimanfaatin gitu sama pacarnya. Yo kasian tha."
Aku: " Nah mangkane itu cha, aku kan mencoba menghindar ya gara-gara itu. Mek pengen dia ngerti."
Icha: "Iyo se nes. Tapi ya gimana lagi? Perasaan mereka lho. Kayak nggak mau dilepasin."
Aku: "Iya chaa, begonya dia. Dia masih mempertahankan hubungan yang rumit kek sekarang ini."
Tak ada habisnya aku berbicara dengan icha tentang dia. Maklum saja, dia yang seharusnya bertindak. Dan jangan mau diinjak-injak. Tapi apalah daya. Aku tak bisa memaksakan perasaannya. Biarlah dia saja yang menyelesaikan ini semua.

Penantian Panjang

Aku sayang kamu, iya aku sayang. Tapi kenapa sekarang kamu menghindar? Apa ada yang salah dariku? Aku berusaha mengejarmu, namun aku tak mampu. Di SMSpun kamu cuek. Akankah aku berusaha lebih dari yang aku mampu? Aku tak kuasa. Akupun memilih untuk menunggu. Menunggumu dalam waktu lama. Aku bimbang, aku harus bagaimana? Apa kau tetap saja tak mengerti bagaimana perasaanku? Aku sudah mengungkapkan, begitu juga kau. Tapi sepertinya harapanku sia-sia.
Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan tak pernah menghubungimu lagi. Aku kecewa. Dan sepertinya kau mengingkari janjimu. Janji manis di mulutmu. "AKU AKAN SELALU MENJAGAMU SELAMANYA." Apakah benar? Jika benar, mengapa semua berakhir seperti ini? Berakhir secara tiba-tiba. Sebenarnya aku tak ingin semua seperti ini. Namun, aku tahu rasa sayang kita mulai pudar.
Itu hanya perasaanku saja kan? Tolong, hargai perasaanku! Aku wanita yang bisa dibilang lemah karena hatiku. Aku tak ingin kau melukaiku seperti ini. Tapi apalah daya, aku tak kuasaa.
Tuhan, setiap malam apakah aku harus memikirkannya? Menyiksa batinku? Aku ingin jauh darinya, aku tak ingin terus-menerus seperti ini. Tuhan, tolong aku. Aku ingin dirinya, rindu padanya. Memikirkannya. Namun mengapa saat jatuh cinta sayang-sayang dia menghindar.
Mungkin ku harus pergi untuk melupakannya, dalam hati berkata tak sanggup pergi. Telah kucoba menghapus bayang-bayang indah, tapi selalu ku merindu lagi. Ingin lupa, namun ku tak bisa. Tuhan tolong, tolong aku!
Berkali ku mencoba menjauh, namun sayang aku tak mampu. Tuhan, apakah ini karma? Maafkan aku.
Dulu, kamu selalu ada disisiku saat aku senang.
Dulu, kamu selalu ada disisiku saat aku sedih, dan mencoba menghiburku.
Dulu, kamu selalu perhatian.
Dulu, kamu selalu bilang "Kalo kamu sakit, terus nggak masuk. Aku galau lho"
Dulu, kamu selalu bilang "Jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Aku nggak mau kamu sakit."
Dulu, kamu selalu bilang "Aku nggak pengen kehilangan kamu."
Dulu, kamu selalu bilang "Jangan marah, nanti cantiknya hilang lho:p"
Dulu, kamu selalu bilang "Jangan cemberut, aku sayang kamu."
Dulu, kamu selalu bilang "Aku pingin satu kelas sama kamu say."
Dulu, kamu selalu bilang "Ayo belajar, ndang sholat."
Dulu, kamu manggil aku SAYANG.Dulu, kamu selalu ndengerin curhatanku dan selalu memberi solusi disetiap masalahku.
Dulu, kamu selalu menyemangatiku.
Dulu, kamu selalu tersenyum untukku.
Dulu, kamu selalu ingin aku menjadi yang terbaik.
Dulu, kamu janji akan selalu menjagaku
Dulu, kalau aku merasa ngganggu kamu. Aku selalu bilang "MAAF dan MAAF."
Tapi, kamu nggak pernah marah sama tingkahku dan selalu bilang "KAMU NGGAK PERNAH GANGGU AKU, AKU MALAH BERSYUKUR KAMU ADA DI SISIKU. KAMU MENGAJARIKU BANYAK HAL. KAMU PEREMPUAN YANG TANGGUH SAY. AKU BANGGA KENAL KAMU. AKU SAYANG KAMU. AKU SELALU INGIN DI SISIMU, MENJAGAMU DARI SEGALA BAHAYA. AKU INGIN KAMU NYAMAN DI PELUKANKU. AKU INGIN KAMU MENGERTI PERASAANKU. KAMU SATU-SATUNYA WANITA YANG BISA BIKIN AKU JATUH CINTA SAMA KAMU."Bacanya bikin nangis. Aku bahagia dapet sms gitu dari kamu. Terbang melayang jauh di atas langit.
Namun, saat ini kau membuatku terjatuh.
Tak ada lagi senyum untukku.
Tak ada lagi kata SAYANG.
Tak ada lagi yang bisa menghiburku.
Tak ada lagi sebutan MALAIKAT dan BIDADARI.
Tak ada lagi sebutan RAJA dan RATU GOMBAL.
Tak ada lagi kata-kata yang manis untukku.
Kamu menganggap semua ini berakhir?
Dan dia sudah berhasil menggantikan posisiku?
Apakah benar kau sudah melupakan semua kenangan indah kita dulu?
Apakah secepat itu?
Tuhan, aku ingin memutar waktu. Dan kalau bisa, aku akan memutarnya pada saat kita bersama.
Kenangan indah yang tak bisa dilupakan.
IYA, SAAT-SAAT BERSAMAMU.
SAAT-SAAT AKU BISA NYAMAN DI PELUKANMU.
SEDETIKPUN TAK MENDENGAR KABARMU, AKU MERASA ADA YANG KURANG.
DAN SEDETIKPUN TAK MELIHAT SENYUMMU, AKU MERASA ADA YANG HILANG.
Tuhan, aku ingin dia kembali kepadaku.
Aku sudah menantinya.
Menantinya di Penantian Panjangku.
Dan aku harap, kau bisa hadir walau hanya di mimpiku saja.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pelangi di Malam Hari

Senyuman indah di wajahnya, semakin kabur. Aku tak tahu mengapa ini terjadi. Akupun hanya bisa diam melihatnya begini. Sempat terlintas di pikiranku untuk melupakan senyuman itu. Senyuman yang selalu membayangiku. Aku tak tahu mengapa. Ataukah ini sudah takdir? Namun, aku rasa bukan. Aku hanya terobsesi dengannya. Bahkan aku tak peduli dengan hatiku. Aku terlalu memikirkannya. Walau aku tahu bahwa dia sudah menyakitiku. Memanah panah cinta yang terlalu dalam di hatiku. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku hanyalah seorang gadis yang pendiam, pemalu, namun aku bisa sangat akrab dengan seseorang yang sudah kukenal lama dan aku yakin dia benar-benar mempunyai niat baik untuk selalu mendukungku.
Di tengah-tengah keramaian sekolah, aku merasa sangat kesepian pagi ini. Walau aku tahu ini bukan pertama kalinya aku sekolah. Mungkin karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan, teman-teman sengaja bersikap agak cuek terhadapku. Sebal memang, karena aku berpikir di ulang tahunku yang ke 14 ini aku bisa mendapatkan banyak hadiah yang aku inginkan. Dengan bertumpuk-tumpuk bingkisan yang tertera Happy Birthday di atas kartu ucapannya. Namun, itu tak berlaku. Karena semua sengaja memperlakukan aku dengan perilaku yang aku benci. Cuek!
"Bertahan Nesa, bertahaan! Kamu pasti bisa melewati hari yang menyebalkan ini," kataku dalam hati. Namun sepertinya, itu tidak mempan. Tapi apalah daya, aku hanya bisa terdiam merenungi semua ini. Bel pulang akhirnya berbunyi.
Jantungku berdegup kencang, akankah teman-teman menyiapkan kado yang spesial untukku? Walau itu hanya sebuah ucapan, aku akan menerimanya dengan tangisan bahagia. Beberapa menit aku menunggu kalimat itu. Namun, mengapa hanya beberapa saja? Semuanya kemana? Akankah mereka tak ingat hari spesialku? Aku ingin menangis Tuhan! Tahun lalu, terasa begitu sempurna. Tapi mengapa sekarang tidak? Aku salah apa sampai mereka lupa akan hari yang spesial ini.
Kalau saja aku tahu akan berakhir seperti ini, aku akan mengurungkan niatku berangkat ke sekolah pagi-pagi dan mengharapkan setumpuk kado dari orang-orang yang aku sayang. Air mata ini benar-benar menetes, aku tak bisa menahannya. Tuhan, tolong ingatkan mereka akan hari yang spesial ini. Aku tak ingin ulang tahunku akan berakhir duka. Aku benar-benar tak ingin.
Dengan perasaan yang hampa, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Karena Icha telah memaksaku untuk segera meninggalkan sekolah. Akupun sempat mendengus mendengar perkataannya yang terkadang membuatku kacau. Apalagi ini adalah hari ulang tahunku. Tapi, benar juga perkataan Icha. Aku harus segera meninggalkan suasana kecewa di sekolah. Dengan langkah yang cukup berat, akupun meninggalkan sekolah ditemani oleh Icha. Akupun tersentak saat melihat sahabat-sahabatku telah menungguku. Di bawah pohon, dengan wajah yang tak bisa kutebak. Adakah kejutan di sela-sela kekecewaanku? Sungguh aku tak tahu.
Setelah aku berjalan cukup jauh, tak ada sepatah katapun dari mereka. Aku tak tahu apakah mereka lupa? Benar-benar lupa? Sudahlah, hati ini sudah cukup hampa untuk mengetahuinya. Mereka berjalan di belakangku. Aku sengaja mempercepat langkahku. Aku sangat bingung, apakah mereka benar-benar tega melihatku berjalan sendirian? Aku tak menyangka semua akan seperti ini.
Namun, saat aku benar-benar ingin mati dan memejamkan mata semua seakan terjawab. Sebungkus tepung dan kopi telah ada di genggaman mereka. Dan, byyuuuuurrr!
"Selamat Ulang Tahun Nesa, maaf ya kita seharian tadi nyuekin kamu. Nggak bermaksud sih sebenernya, tapi itu hanya sebagian dari skenario kita," ujar mereka dengan nada bahagia.
"Makasih temaaan, aku pikir kalian akan lupa hari ini. Kadonya mana?" dengan nada sedikit menggoda. "Haha, sori ya kita cuma bisa sebatas sebungkus tepung dan kopi aja." dengan nada terkekeh. "Haha, aku bercanda kawaan. Ini kado yang sederhana tapi benar-benar berarti untukku hari ini," kataku dengan muka masam. Ini bukaaan kado yang aku harapkan kawan! Hatiku mulai memberontak dan memanas. Tapi tak apalah, mungkin ada kado yang selanjutnya.
Sore harinya, aku berniat untuk meneraktir beberapa anak yang aku anggap spesial disana. Aku mengundang Nana, Chakim, Luluk, Ayu, Icha, Iqbal, Aiham, Ardi, Mbak Rani dan Mas Ade. Awalnya aku juga mengajak Widya dan Dinda. Namun mereka tidak bisa hadir karena ada urusan. Aku memakluminya, namun ada saja yang kurang bila mereka tak ikut.
Kita janjian di Mi Tomcat. Namun mereka datang tak tepat waktu. Dengan terpaksa, acara syukuran ini ditunda sampai mereka datang.
Setelah lama menunggu, merekapun lengkap dan aku sudah memilih tempat duduk yang tepat untuk acara ini. Nana dengan Chakim, Mbak Rani dengan Mas Ade. Maklum saja, mereka sama-sama ada ikatan, pacaran maksudnya. Aku hanya tak ingin mereka terganggu dengan ulah kami(Aiham, Icha, Aku) yang terkenal agak usil sedunia. Kami membicarakan banyak hal, sampai pada saatnya Luluk dan Ayu mengeluarkan sesuatu dari tas kresek yang berwarna hitam. Aku hanya menebak dalam hati, pasti Kue Tart. Dan ternyata tebakanku benar. Di dalam kotak berwarna putih itu terdapat Kue Tart yang menarik. Yang bertuliskan "Happy Birthday ke-14 NESA." Wow! Ini baru kejutan yang aku harapkan. Memang bukan yang spesial, namun aku terkesan.
Mereka meletakkan Kue Tart di hadapanku dan memasang lilin di atasnya. Dihidupkan lilin di hadapnku itu. Mereka dengan serentak menyanyikan "Happy Birthday" yang disambung dengan lagu "Tiup Lilinnya." Namun di akhir lagu, mereka mengucapkan "Make a Wish dulu yaaa." "Oke," jawabku dengan antusias.
Aku berdo'a di dalam hati. Namun Icha menggodaku dengan kata-kata noraknya yang sempat membuat wajahku sedikit memerah karenanya.
Dia berkata pada teman-teman, namun aku rasa dia agak melirik ke arah Iqbal. Dia bermaksud menyindirnya, karena Icha tahu bahwa aku mempunyai sedikit rasa yang aneh terhadapnya. Mungkin Cinta?
"YaAllah, semoga aku jadian sama Iqbal. Amin," begitu perkataannya yang sedikit membuatku bingung. Aku yang bermaksud ingin mencairkan suasana karena keteganganku, akupun sengaja menggoda Icha. "Lho, kok kamu se? Kan seharusnya aku!" Tawaku meledak. "Haha, maksudku Nesa YaAllah," begitu katanya lagi. Iqbal hanya terdiam, namun beberapa detik kemudian dia memutuskan untuk membuka mulutnya. "Amin YaAllah," begitu perkataan yang keluar dari mulutnya.
Aku tersentak. Apakah benar? Dia mengatakannya? YaAllah, itu jawaban yang aku tunggu. Namun, mengapa selama ini dia hanya diam saja? Dia bahkan tidak pernah meresponku. Memerhatikanku sekali saja tidak pernah, apakah dia benar-benar ingin menjadi pacarku? Kenapa dia tidak menembakku. Akankah aku yang memulai? Namun aku ini wanita. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ah, sudahlah. Mungkin dia hanya bergurau, aku menghibur diri agar tak semakin banyak lagi pertanyaan yang muncul.
Pesanan datang, kita memutuskan untuk berhenti berbicara dan melanjutkan saat selesai makan. Icha dengan keadaan mulut yang penuh saja, dia masih saja bisa menggodaku. Dia mengatakan pada Ardi dan Iqbal. "Lho rek, nggak ngucapin Happy Birthday ke Nesa tha?" dengan bingung mereka menjawab, "Nanti Aja." Selesai makan, aku benar-benar menunggu mereka mengucapkan itu. Terlebih lagi Iqbal, haha. Iya, mungkin aku sangat-sangat membutuhkan dia untuk masa depanku :)
Ardi akhirnya angkat bicara, kata-kata puitis keluar dari mulutnya. Maklum saja, dia termasuk 10 besar orang yang teromantis diantara cowok-cowok busuk di luar sana. Akupun tersenyum dan berterima kasih padanya. Kata-katanya cukup menyentuh. Iqbal masih sedikit bingung untuk mengucapkannya padaku. Memang dia tidak bisa seromantis Ardi, namun aku benar-benar mencintainya. Mungkin panah asmara yang dia tancapkan begitu dalam di hatiku. Sehingga aku masih belum bisa melupakannya.
Hingga akhirnya ia berpamitan dan mengucapkan sepatah kata untukku.
Dia memegang tanganku untuk pertama kalinya. Aku gugup, aku tak berani menatap matanya. Dia berkata "HAPPY BIRHTDAY YANG KE-14 YAA, SEMOGA JADI ANAK YANG ......" dia tidak melanjutkan. Dan disambung lagi, "To be Continue ya." Dia melepas tangan hangatnya dari tanganku. Aku tak ingin melupakan ini, Tuhan. Aku benar-benar diberi kado terbaik.
Terima Kasih atas semuanyaa. Semua yang kau berikan kepadaku bal. Aku sayang kamu, I want yo back to me . I call it a rainbow at night, thank you for all.

(ʃƪ'⌣')♥  (˘⌣˘)ε˘`)