Senyuman indah di wajahnya, semakin kabur. Aku tak tahu mengapa ini terjadi. Akupun hanya bisa diam melihatnya begini. Sempat terlintas di pikiranku untuk melupakan senyuman itu. Senyuman yang selalu membayangiku. Aku tak tahu mengapa. Ataukah ini sudah takdir? Namun, aku rasa bukan. Aku hanya terobsesi dengannya. Bahkan aku tak peduli dengan hatiku. Aku terlalu memikirkannya. Walau aku tahu bahwa dia sudah menyakitiku. Memanah panah cinta yang terlalu dalam di hatiku. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku hanyalah seorang gadis yang pendiam, pemalu, namun aku bisa sangat akrab dengan seseorang yang sudah kukenal lama dan aku yakin dia benar-benar mempunyai niat baik untuk selalu mendukungku.
Di tengah-tengah keramaian sekolah, aku merasa sangat kesepian pagi ini. Walau aku tahu ini bukan pertama kalinya aku sekolah. Mungkin karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan, teman-teman sengaja bersikap agak cuek terhadapku. Sebal memang, karena aku berpikir di ulang tahunku yang ke 14 ini aku bisa mendapatkan banyak hadiah yang aku inginkan. Dengan bertumpuk-tumpuk bingkisan yang tertera Happy Birthday di atas kartu ucapannya. Namun, itu tak berlaku. Karena semua sengaja memperlakukan aku dengan perilaku yang aku benci. Cuek!
"Bertahan Nesa, bertahaan! Kamu pasti bisa melewati hari yang menyebalkan ini," kataku dalam hati. Namun sepertinya, itu tidak mempan. Tapi apalah daya, aku hanya bisa terdiam merenungi semua ini. Bel pulang akhirnya berbunyi.
Jantungku berdegup kencang, akankah teman-teman menyiapkan kado yang spesial untukku? Walau itu hanya sebuah ucapan, aku akan menerimanya dengan tangisan bahagia. Beberapa menit aku menunggu kalimat itu. Namun, mengapa hanya beberapa saja? Semuanya kemana? Akankah mereka tak ingat hari spesialku? Aku ingin menangis Tuhan! Tahun lalu, terasa begitu sempurna. Tapi mengapa sekarang tidak? Aku salah apa sampai mereka lupa akan hari yang spesial ini.
Kalau saja aku tahu akan berakhir seperti ini, aku akan mengurungkan niatku berangkat ke sekolah pagi-pagi dan mengharapkan setumpuk kado dari orang-orang yang aku sayang. Air mata ini benar-benar menetes, aku tak bisa menahannya. Tuhan, tolong ingatkan mereka akan hari yang spesial ini. Aku tak ingin ulang tahunku akan berakhir duka. Aku benar-benar tak ingin.
Dengan perasaan yang hampa, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Karena Icha telah memaksaku untuk segera meninggalkan sekolah. Akupun sempat mendengus mendengar perkataannya yang terkadang membuatku kacau. Apalagi ini adalah hari ulang tahunku. Tapi, benar juga perkataan Icha. Aku harus segera meninggalkan suasana kecewa di sekolah. Dengan langkah yang cukup berat, akupun meninggalkan sekolah ditemani oleh Icha. Akupun tersentak saat melihat sahabat-sahabatku telah menungguku. Di bawah pohon, dengan wajah yang tak bisa kutebak. Adakah kejutan di sela-sela kekecewaanku? Sungguh aku tak tahu.
Setelah aku berjalan cukup jauh, tak ada sepatah katapun dari mereka. Aku tak tahu apakah mereka lupa? Benar-benar lupa? Sudahlah, hati ini sudah cukup hampa untuk mengetahuinya. Mereka berjalan di belakangku. Aku sengaja mempercepat langkahku. Aku sangat bingung, apakah mereka benar-benar tega melihatku berjalan sendirian? Aku tak menyangka semua akan seperti ini.
Namun, saat aku benar-benar ingin mati dan memejamkan mata semua seakan terjawab. Sebungkus tepung dan kopi telah ada di genggaman mereka. Dan, byyuuuuurrr!
"Selamat Ulang Tahun Nesa, maaf ya kita seharian tadi nyuekin kamu. Nggak bermaksud sih sebenernya, tapi itu hanya sebagian dari skenario kita," ujar mereka dengan nada bahagia.
"Makasih temaaan, aku pikir kalian akan lupa hari ini. Kadonya mana?" dengan nada sedikit menggoda. "Haha, sori ya kita cuma bisa sebatas sebungkus tepung dan kopi aja." dengan nada terkekeh. "Haha, aku bercanda kawaan. Ini kado yang sederhana tapi benar-benar berarti untukku hari ini," kataku dengan muka masam. Ini bukaaan kado yang aku harapkan kawan! Hatiku mulai memberontak dan memanas. Tapi tak apalah, mungkin ada kado yang selanjutnya.
Sore harinya, aku berniat untuk meneraktir beberapa anak yang aku anggap spesial disana. Aku mengundang Nana, Chakim, Luluk, Ayu, Icha, Iqbal, Aiham, Ardi, Mbak Rani dan Mas Ade. Awalnya aku juga mengajak Widya dan Dinda. Namun mereka tidak bisa hadir karena ada urusan. Aku memakluminya, namun ada saja yang kurang bila mereka tak ikut.
Kita janjian di Mi Tomcat. Namun mereka datang tak tepat waktu. Dengan terpaksa, acara syukuran ini ditunda sampai mereka datang.
Setelah lama menunggu, merekapun lengkap dan aku sudah memilih tempat duduk yang tepat untuk acara ini. Nana dengan Chakim, Mbak Rani dengan Mas Ade. Maklum saja, mereka sama-sama ada ikatan, pacaran maksudnya. Aku hanya tak ingin mereka terganggu dengan ulah kami(Aiham, Icha, Aku) yang terkenal agak usil sedunia. Kami membicarakan banyak hal, sampai pada saatnya Luluk dan Ayu mengeluarkan sesuatu dari tas kresek yang berwarna hitam. Aku hanya menebak dalam hati, pasti Kue Tart. Dan ternyata tebakanku benar. Di dalam kotak berwarna putih itu terdapat Kue Tart yang menarik. Yang bertuliskan "Happy Birthday ke-14 NESA." Wow! Ini baru kejutan yang aku harapkan. Memang bukan yang spesial, namun aku terkesan.
Mereka meletakkan Kue Tart di hadapanku dan memasang lilin di atasnya. Dihidupkan lilin di hadapnku itu. Mereka dengan serentak menyanyikan "Happy Birthday" yang disambung dengan lagu "Tiup Lilinnya." Namun di akhir lagu, mereka mengucapkan "Make a Wish dulu yaaa." "Oke," jawabku dengan antusias.
Aku berdo'a di dalam hati. Namun Icha menggodaku dengan kata-kata noraknya yang sempat membuat wajahku sedikit memerah karenanya.
Dia berkata pada teman-teman, namun aku rasa dia agak melirik ke arah Iqbal. Dia bermaksud menyindirnya, karena Icha tahu bahwa aku mempunyai sedikit rasa yang aneh terhadapnya. Mungkin Cinta?
"YaAllah, semoga aku jadian sama Iqbal. Amin," begitu perkataannya yang sedikit membuatku bingung. Aku yang bermaksud ingin mencairkan suasana karena keteganganku, akupun sengaja menggoda Icha. "Lho, kok kamu se? Kan seharusnya aku!" Tawaku meledak. "Haha, maksudku Nesa YaAllah," begitu katanya lagi. Iqbal hanya terdiam, namun beberapa detik kemudian dia memutuskan untuk membuka mulutnya. "Amin YaAllah," begitu perkataan yang keluar dari mulutnya.
Aku tersentak. Apakah benar? Dia mengatakannya? YaAllah, itu jawaban yang aku tunggu. Namun, mengapa selama ini dia hanya diam saja? Dia bahkan tidak pernah meresponku. Memerhatikanku sekali saja tidak pernah, apakah dia benar-benar ingin menjadi pacarku? Kenapa dia tidak menembakku. Akankah aku yang memulai? Namun aku ini wanita. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ah, sudahlah. Mungkin dia hanya bergurau, aku menghibur diri agar tak semakin banyak lagi pertanyaan yang muncul.
Pesanan datang, kita memutuskan untuk berhenti berbicara dan melanjutkan saat selesai makan. Icha dengan keadaan mulut yang penuh saja, dia masih saja bisa menggodaku. Dia mengatakan pada Ardi dan Iqbal. "Lho rek, nggak ngucapin Happy Birthday ke Nesa tha?" dengan bingung mereka menjawab, "Nanti Aja." Selesai makan, aku benar-benar menunggu mereka mengucapkan itu. Terlebih lagi Iqbal, haha. Iya, mungkin aku sangat-sangat membutuhkan dia untuk masa depanku :)
Ardi akhirnya angkat bicara, kata-kata puitis keluar dari mulutnya. Maklum saja, dia termasuk 10 besar orang yang teromantis diantara cowok-cowok busuk di luar sana. Akupun tersenyum dan berterima kasih padanya. Kata-katanya cukup menyentuh. Iqbal masih sedikit bingung untuk mengucapkannya padaku. Memang dia tidak bisa seromantis Ardi, namun aku benar-benar mencintainya. Mungkin panah asmara yang dia tancapkan begitu dalam di hatiku. Sehingga aku masih belum bisa melupakannya.
Hingga akhirnya ia berpamitan dan mengucapkan sepatah kata untukku.
Dia memegang tanganku untuk pertama kalinya. Aku gugup, aku tak berani menatap matanya. Dia berkata "HAPPY BIRHTDAY YANG KE-14 YAA, SEMOGA JADI ANAK YANG ......" dia tidak melanjutkan. Dan disambung lagi, "To be Continue ya." Dia melepas tangan hangatnya dari tanganku. Aku tak ingin melupakan ini, Tuhan. Aku benar-benar diberi kado terbaik.
Terima Kasih atas semuanyaa. Semua yang kau berikan kepadaku bal. Aku sayang kamu, I want yo back to me .
I call it a rainbow at night, thank you for all.
(ʃƪ'⌣')♥ (˘⌣˘)ε˘`)
