Cintailah Cinta!
Tuhan, jika dia
memang jodohku maka dekatkanlah kami. Namun, jika tidak tolong jauhkanlah kami.
Aku menderita seperti ini. Sangat menderita. Dimana dia tak pernah
mengungkapkannya padaku. Perasaan itu, perasaan yang membara di hatiku. Aku
ingin dia mengungkapkannya! Aku ingin dia memberanikan dirinya untuk
mengungkapkan perasaannya sebelum dia kehilangan aku. Saat aku tak ada lagi di
dunia ini. Saat aku tak bisa melihat senyumnya kembali. Tuhan, tolonglah. Aku bosan.
Bosan menunggu.
Menunggu cinta
yang tak pasti. Aku harap dengan perginya aku, kamu akan tahu bagaimana rasa
sakit yang aku rasakan. Kamu yang selalu menggantungkan perasaanku. Aku muak! Aku
ingin pergi darimu. Namun, aku tak sanggup kehilanganmu. Bukan kehilangan
ragamu. Tapi, aku takut kehilangan cintamu. Mungkin saat itu kau mempermainkan
aku, saat aku tak bisa membalas cintamu.
Sejak saat itu,
aku mulai paham. Paham karena kamu memang ada rasa kepadaku. Meski aku tak
percaya, kau berusaha pahamkan aku. Pahamkan perasaan ini. Perasaan yang haus
akan cinta. Namun, aku terlalu bodoh untuk memahaminya. Aku bodoh, sehingga kau
menjauh dariku. Mungkin ini memang salahku. Tapi kenapa setiap aku ingin pergi
darimu, kau malah mencegahnya? Dan betapa bodohnya aku melepaskanmu. Meski aku
tahu. Aku sangat mencintainya. Mencintai kekurangannya. Dan aku bersyukur
mengenalmu.
Di saat kamu
berada di sini, aku tak menginginkanmu. Tapi, di saat kamu jauh aku baru saja
merasakannya. Betapa rindunya aku ke kamu. Bagaimana galaunya aku tanpa kamu. Kamu
yang ada di sisiku saat ini. Kau menancapkan panah cinta yang terlalu dalam di
hatiku. Dan saat kau pergi, panah ini menyayat-nyayat hatiku. Menyayat seluruh
rasa dan asaku. Tuhan, apakah cukup di sini pencarian cintaku?
Aku tak ingin
merasakan kesakitan ini lagi. Sudah cukup kurasakan. Sakit yang begitu dalam. Dia
membuatku sangat menderita. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Menulis semua hal
tentangmu. Hanya ini!
Melihatmu
tersenyum saat jam istirahat sekolah, mungkin dapat menyembuhkan sedikit lara
hati ini. Walaupun aku tak mampu, melihat kau tersenyum. Karena senyuman itu
palsu! Senyummu itu hanya untuknya. Bukan untukku lagi.
Tuhan, berikan aku
ketabahan. Agar aku selalu bisa menerimanya kapanpun. Dan saat dia ada di
sampingku, jangan biarkan dia mengetahui semua masa lalu yang pernah ku alami
begitu suram. Aku ingin bahagia saat bersamanya. Saat di sampingnya. Aku ingin
hati kita selalu menyatu. Kapanpun itu!
Tuhan, mengapa di
saat dia bersama wanita lain aku begitu cemburu? Aku merasakan hal itu sangat
membuatku jatuh dan terpuruk. Aku benar-benar ingin kamu mengetahui bagaimana
rasa cintaku kepadamu. Mendekatlah, dan kau akan tahu betapa aku mencintaimu. Sangat-sangat
mencintaimu.
Tuhan, apakah
semua ini takdir? Apakah dia jodohku? Ataukah dia hanya singgah untuk beberapa
saat saja di hatiku? Tuhan, jangan biarkan aku menangis lagi. Menangis karena
cinta. Cinta yang belum tentu kapan berakhirnya. Tapi mengapa sampai saat ini
aku masih tak mau melupakannya? Meski aku tahu dia sering membuatku terluka
bahkan menangis. Dia yang selalu kurindukan. Aku cinta kamu. Mengertilah! Aku ini
wanita. Aku tak mungkin memulai.
Jika kau benar-benar sayang padaku, maka cobalah untuk mencintai cinta!



