Kamis, 12 Desember 2013

Cerita Berlanjut, eps 1


                Saat aku berjalan di lapangan basket pagi tadi, ada seseorang yang memperhatikan aku. Oh bukan, dia tidak sendirian rupanya, dia bersama beberapa orang lainnya. Seseorang yang berada di paling depan itu sepertinya lumayan, mungkin dia adalah kapten basket di sekolah baruku ini. Maklum saja, dia sepertinya tidak bisa lepas dengan benda yang berada di tangannya. Ya, bola basket!
                “Pagi CANTIK! Apa kabar? Anak baru ya? Kenalkan namaku Adrian,” sapa lelaki yang berada di barisan paling depan itu.
                Aku melihat di sekelilingku, namun rupanya tak ada seorangpun selain kami. Apa dia bicara padaku? Ah dia mungkin hanya iseng. Eits, tapi jika dia tidak berbicara padaku lalu kepada siapa? Kalau saja dia berbicara padaku, akan ku tampar dia! Beraninya memanggilku seperti itu. Nggak tahu diri banget. Langkahku semakin cepat, namun sepertinya ada suara seseorang berlari.
                “Hai, selamat pagi. Aku berbicara padamu. Kenalkan aku Adrian Adji Febriansyah, maaf jika aku menyapamu begitu tadi. Aku merasa asing, sepertinya aku baru kali ini melihatmu,” katanya sopan.
                “Kamu tadi menyapaku? Oh maafkan aku. Aku Zela Anastasya Ways. Iya tak apa,” balasku ramah.
                “Panggil aja Ian, aku anak kelas XI-IPA, kapten basket, dan calon menantunya bapak presiden 2025,” katanya panjang lebar.
                “Panggil aku apa aja,” balasku bosan tak menghiraukan.
                “Sayang nggak papa dong? Eaa,” teriaknya, sambil menjulurkan lidah ke wajahku.
                “Haha, dasar kamu. Hm, boleh antar aku ke kelas XI-IPA 3 nggak?,” tawaku lepas.
                “XI-IPA 3? Kamu kelas itu kah?,” balasnya ingin tahu.
                “Iya, buruan dong. Aku bosan di sini,” tuntutku.
                “Yeay, kita sekelas!!!!” teriaknya heboh.
                “Ayo sayang!” kataku kesal.
                “Apa? Kamu bilang apa barusan?” katanya lagi.
                “Ih buruan, ya udah deh kalau nggak mau. Aku bisa sendiri,” kataku malas.
                “Iya aku antar, lewat sini tuan putri,” tuturnya norak.
                “Ah dasar kamu!,” kataku dengan senyum tipis.
                Saat kami berjalan menuju ruang kelas XI-IPA 3 tiba-tiba Ian menggenggam tanganku. Aku sontak terdiam dan menatapnya lekat-lekat. Aku ingin menuntutnya, aku tidak ingin diperlakukan semena-mena dengan seseorang yang baru aku kenal tadi pagi. Dan ingat, semua rayuannya nggak mempan!
                “Woi IAANNN!! Kemana aja sih lu? Gue nyariin lu kali,” teriak seseorang. Sontak kamipun sadar lalu aku melepas genggaman tangan seseorang yang sedari tadi ada di hadapanku itu.
                “Ya lu sih nggak ngabarin gue!” kata Adrian dengan nada tinggi, sedikit salah tingkah.
                “Oke deh. Eh siapa nih? Cantik, bohay lagi. Kok lu nggak ngenalin ke gue sih? Kita kan udah sahabatan lama. Dasar lu ah! Beginian aja cepet!,” bisik seseorang itu kepada Adrian.
                “Hm, Zela ini temenku Zaka. Zaka ini Zela. Dia anak baru di sekolah ini,” kata Adrian.
                “Cie nama kita sama-sama berawalan “Z” ya! Jodoh dong, aku Zaka Aufandar Alim,” katanya sambil mengulurkan tangan.
                “Oh Zaka, aku Zela Anastasya Wisk. Iya aku anak pindahan di sini,” aku membalas uluran tangannya, namun dicegah oleh Adrian.
                Bel berbunyi, pertanda pelajaran pertama dimulai.
                “Udah cukup kenalannya, udah bel noh. Menyingkirlah Zaka! Tuan putrinya Ian mau lewat,” lirik Ian sinis.
               
                Ian membawaku ke kelas, namun sepertinya aku telah ditipu.
                “Ruangannya masih jauh? Kayaknya kita udah lewat sini tiga kali deh,” tatapku kesal.
                “Maaf ruangannya di atas sayang, aku hanya memperkenalkanmu daerah kekuasaanku,” ucapnya sok.
                “ADRIAAANNN!! Masuk kelas. Ini adalah jam pelajaran,” teriak seorang guru yang mengetahui kami berjalan berdua di lorong.
                Kamipun memenuhi perintah tersebut, dengan tergesa-gesa Ian menggandengku dan mengajakku berlari untuk menjauhi sumber suara tersebut. Deg-degan rasanya. Baru juga pindah, udah bolos pelajaran pertama dan parahnya aku tidak sendirian. Aku bersama seseorang yang menyebalkan! Adrian!! Awas ya kamu! Di tengah lamunanku, tiba-tiba seseorang yang sedari tadi bersamaku sudah sangat jelas di depan mataku. Semakin dekat, hidungnya yang mancungpun bersentuhan dengan hidungku. Bibir kami sudah sangat dekat. Bahkan telah menyentuh. Apa aku mimpi?