Namun
seketika, bibirku memang terasa basah. Kami telah berciuman. Aku membisu. Dia
yang sedang duduk di hadapanku itu tak aku hiraukan. Baru kali ini ada
seseorang yang berani menciumku. Ah kenapa rasanya jantungku berdebar sangat
kencang?
“Zela?
Dari tadi aku ngomong sama kamu! Kenapa diam aja?” tegas Ian.
Aku
tak menjawab, aku masih dalam lamunanku. Bodoh, kenapa masih disini sama dia
sih. Iaaannn! Enyahlah kamu! Aku tak ingin melihatmu.
“Beraninya
kamu menciumku, tanpa persetujuanku!” tamparanku pun mengenai wajahnya. “Aku
bukan cewek murahan ya! Kamu bajingan!” air mataku mulai mengalir deras.
Aku
beranjak dari tempat dudukku dan berniat meninggalkannya. Aku berlari sekencang
mungkin.
“Zela
maafin aku, aku sayang kamu,” teriak Ian.
Namun
aku masih terus berlari. Berlari menjauh darinya. Tak tahu, mau ke arah mana aku
menuju. Aku memutuskan untuk ke ruang BK untuk menemui guruku agar dapat
mengantarkanku ke kelas.
Sesaat
kemudian aku telah sampai di depan kelas. Guru BK baruku ini mencoba mengetuk
pintu kelas.
“Permisi,
Pak!” sapa guru BK kepada guru di dalam kelas.
“Iya
Bu, ada apa?” kata beliau, sopan.
“Begini
Pak, saya hanya mengantarkan anak baru di kelas ini.”
“Oh
iya silahkan Bu!”
“Anak-anak
mohon perhatian sebentar, disini kita kedatangan murid baru dari Jakarta. Akan
lebih jelas jika kita mendengarkannya memperkenalkan diri,” kata seorang BK
yang berparas cantik ini.
“Halo,
nama saya Zela Anastasya Ways. Panggil aja Zela. Saya pindahan dari SMAN 1
Jakarta. Saya pindah ke SMA ini karena mengikuti ayah untuk dinas disini,” kataku.
“Nomer
hp dongg!!” Teriak mereka.
“Nomor
handphone saya 085753878994,” kataku mengeja.
“Alamaatt!!!”
Teriak mereka lagi.
“Jl.
Pattimura no 54, kalo mau berkunjung silahkan. Pintu rumahku akan selalu
terbuka untuk kalin,” kataku dengan melempar senyuman.
“Oke,
baiklah anak-anak. Sekian perkenalannya, silahkan Zela kamu duduk di sebelah
ketua kelas,” katanya mengakhiri.
“Baiklah
Bu, terima kasih,” kataku dan Bapak Guru bersamaan.
Aku
berjalan menuju bangku yang kosong tersebut.
“Ketua kelasnya siapa
sih? Kok nunduk gitu? Jadi kepo kan,” gumamku dalam hati.
“Halo, kamu siapa? Kok
dari tadi nunduk gitu?,” sapaku.
“Lagi nyesel nih, aku
suka sama seseorang tapi aku menciumnya. Aku nyesel banget. Dia lagi marah sama
aku. Gimana caranya ya biar kita baikan?,” katanya masih menunduk.
“Kasih aja bunga,
barangkali dia mau memaafkanmu,” jawabku.
“Saran yang bagus, btw
kamu siapa? Kok dibangku ini?,” dia mulai heran.
“Kamu sih dari tadi
nunduk terus, jadi nggak tahu aku kan,” kataku sebal.
“Maaf, galau berat. Hai
aku Ian,” katanya sambil mendongakkan kepalanya.
“Kamu?” ucap kami
bebarengan.
“Ah bego kenapa dia
sih?” gumamku dengan perasaan yang aneh. Jantungku berdetak sangat kencang. Entah
kenapa, perasaan ini sama seperti saat awal bertemu dengannya.
“Zela, maafin aku. Aku
nyesel udah gitu ke kamu. Aku nggak berniat untuk mempermainkanmu. Tapi jujur,
aku emang suka kamu. Aku cinta kamu dari awal kita ketemu. Please maafin aku
ya? Oke kamu boleh minta apapun, pokoknya aku dimaafin!” katanya panjang lebar.
Aku tak menghiraukan. Tapi
dia selalu berusaha untuk mendapatkan maaf dariku.
“Ah tahu ah, udah
dengerin gurunya itu lho,” perintahku.
“Iya-iya, maaf deh,” sesalnya.
Bel tanda istirahat pun
berbunyi.
“Kamu nggak ke kantin?”
ajak Ian.
“Lagi males keluar,”
kataku sinis.
“Oke aku juga nggak
deh,” katanya penuh harap.
Aku mengambil kotak
makanku di dalam tas. Aku memakan bekal yang sedari pagi telah siap.
“Wah, kamu bawa bekal? Pasti
rasanya enak, kamu yang bikin?” kata Ian yang mulai kelaparan, karena perutnya yang
keroncongan berbunyi.
“Haha kamu laper? Ini,
aaaak,” aku berusaha menyuapinya.
Kami pun memakan bekal
berdua. Saat itu aku merasa nyaman berada di sampingnya. Sesekali dia yang
menyuapi aku. Sekotak makan berdua itu rasanyaaa... Suasana ini sungguh romantis.
“Jadi aku dimaafin nih?”
katanya dengan wajah memelas.
“Nggak, enak aja!”
bentakku.
“Yah kirain udah
dimaafin sama bidadariku ini. Eh ternyata belum, yaudah bentar deh mau keluar,”
izinnya.
“Yaudah keluar aja,”
usirku.
Tak lama dia pun
kembali, namun ada yang janggal. Dia juga membawa sesuatu di balik badannya. Namun
aku tidak terlalu penasaran dengan benda itu. Ah lupakan.
“Hai Zela, maafin aku
ya. Aku khilaf ngelakuin itu. Beneran deh, maaf banget. Aku rela ngapain aja
asalkan kamu maafin aku,” katanya berlutut di hadapanku dengan menggenggam
sekuntum mawar putih.
Anjir, kenapa dia bisa
tahu kalo aku suka mawar putih. Ah, gini banget sih Tuhan. Terima nggak ya? Pingin
bunganya sih. Kalo aku nggak diterima? Ah aku munafik dong. Bingung, terima aja
deh.
“Oke aku maafin karena
kamu bawa bunga kesukaanku. Tapi ada syaratnya. Nanti setelah bel pulang aku
akan memberikan persyaratannya kepadamu. Awas kalo kamu ngelanggar. Aku tunggu
di taman,” kataku sambil menerima bunga dari genggaman tangannya.
“Baiklah, terima kasih,”
katanya mengiyakan sambil memelukku dengan erat.
“Eh apaan modus kamu
ah! Udah lepasin, nggak aku maafin lho!!!” bentakku sangat keras dan berusaha
untuk melepaskan pelukannya.
“Iya-iya maaf. Reflek
kali,” serunya.
Haha, ian-ian. Kamu lucu
ya. Romantis, lucu, kadang nyebelin, kamu itu selalu punya cara agar aku
mencintaimu. Entah apakah ini namanya. Tuhan aku sedang jatuh cinta......