Minggu, 26 Januari 2014

Cerita Berlanjut, eps 2

            Namun seketika, bibirku memang terasa basah. Kami telah berciuman. Aku membisu. Dia yang sedang duduk di hadapanku itu tak aku hiraukan. Baru kali ini ada seseorang yang berani menciumku. Ah kenapa rasanya jantungku berdebar sangat kencang?
            “Zela? Dari tadi aku ngomong sama kamu! Kenapa diam aja?” tegas Ian.
            Aku tak menjawab, aku masih dalam lamunanku. Bodoh, kenapa masih disini sama dia sih. Iaaannn! Enyahlah kamu! Aku tak ingin melihatmu.
            “Beraninya kamu menciumku, tanpa persetujuanku!” tamparanku pun mengenai wajahnya. “Aku bukan cewek murahan ya! Kamu bajingan!” air mataku mulai mengalir deras.
            Aku beranjak dari tempat dudukku dan berniat meninggalkannya. Aku berlari sekencang mungkin.
            “Zela maafin aku, aku sayang kamu,” teriak Ian.
            Namun aku masih terus berlari. Berlari menjauh darinya. Tak tahu, mau ke arah mana aku menuju. Aku memutuskan untuk ke ruang BK untuk menemui guruku agar dapat mengantarkanku ke kelas.
            Sesaat kemudian aku telah sampai di depan kelas. Guru BK baruku ini mencoba mengetuk pintu kelas.
            “Permisi, Pak!” sapa guru BK kepada guru di dalam kelas.
            “Iya Bu, ada apa?” kata beliau, sopan.
            “Begini Pak, saya hanya mengantarkan anak baru di kelas ini.”
            “Oh iya silahkan Bu!”
            “Anak-anak mohon perhatian sebentar, disini kita kedatangan murid baru dari Jakarta. Akan lebih jelas jika kita mendengarkannya memperkenalkan diri,” kata seorang BK yang berparas cantik ini.
            “Halo, nama saya Zela Anastasya Ways. Panggil aja Zela. Saya pindahan dari SMAN 1 Jakarta. Saya pindah ke SMA ini karena mengikuti ayah untuk dinas disini,” kataku.
            “Nomer hp dongg!!” Teriak mereka.
            “Nomor handphone saya 085753878994,” kataku mengeja.
            “Alamaatt!!!” Teriak mereka lagi.
            “Jl. Pattimura no 54, kalo mau berkunjung silahkan. Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalin,” kataku dengan melempar senyuman.
            “Oke, baiklah anak-anak. Sekian perkenalannya, silahkan Zela kamu duduk di sebelah ketua kelas,” katanya mengakhiri.
            “Baiklah Bu, terima kasih,” kataku dan Bapak Guru bersamaan.
            Aku berjalan menuju bangku yang kosong tersebut.
“Ketua kelasnya siapa sih? Kok nunduk gitu? Jadi kepo kan,” gumamku dalam hati.
“Halo, kamu siapa? Kok dari tadi nunduk gitu?,” sapaku.
“Lagi nyesel nih, aku suka sama seseorang tapi aku menciumnya. Aku nyesel banget. Dia lagi marah sama aku. Gimana caranya ya biar kita baikan?,” katanya masih menunduk.
“Kasih aja bunga, barangkali dia mau memaafkanmu,” jawabku.
“Saran yang bagus, btw kamu siapa? Kok dibangku ini?,” dia mulai heran.
“Kamu sih dari tadi nunduk terus, jadi nggak tahu aku kan,” kataku sebal.
“Maaf, galau berat. Hai aku Ian,” katanya sambil mendongakkan kepalanya.
“Kamu?” ucap kami bebarengan.
“Ah bego kenapa dia sih?” gumamku dengan perasaan yang aneh. Jantungku berdetak sangat kencang. Entah kenapa, perasaan ini sama seperti saat awal bertemu dengannya.
“Zela, maafin aku. Aku nyesel udah gitu ke kamu. Aku nggak berniat untuk mempermainkanmu. Tapi jujur, aku emang suka kamu. Aku cinta kamu dari awal kita ketemu. Please maafin aku ya? Oke kamu boleh minta apapun, pokoknya aku dimaafin!” katanya panjang lebar.
Aku tak menghiraukan. Tapi dia selalu berusaha untuk mendapatkan maaf dariku.
“Ah tahu ah, udah dengerin gurunya itu lho,” perintahku.
“Iya-iya, maaf deh,” sesalnya.
Bel tanda istirahat pun berbunyi.
“Kamu nggak ke kantin?” ajak Ian.
“Lagi males keluar,” kataku sinis.
“Oke aku juga nggak deh,” katanya penuh harap.
Aku mengambil kotak makanku di dalam tas. Aku memakan bekal yang sedari pagi telah siap.
“Wah, kamu bawa bekal? Pasti rasanya enak, kamu yang bikin?” kata Ian yang mulai kelaparan, karena perutnya yang keroncongan berbunyi.
“Haha kamu laper? Ini, aaaak,” aku berusaha menyuapinya.
Kami pun memakan bekal berdua. Saat itu aku merasa nyaman berada di sampingnya. Sesekali dia yang menyuapi aku. Sekotak makan berdua itu rasanyaaa... Suasana ini sungguh romantis.
“Jadi aku dimaafin nih?” katanya dengan wajah memelas.
“Nggak, enak aja!” bentakku.
“Yah kirain udah dimaafin sama bidadariku ini. Eh ternyata belum, yaudah bentar deh mau keluar,” izinnya.
“Yaudah keluar aja,” usirku.
Tak lama dia pun kembali, namun ada yang janggal. Dia juga membawa sesuatu di balik badannya. Namun aku tidak terlalu penasaran dengan benda itu. Ah lupakan.
“Hai Zela, maafin aku ya. Aku khilaf ngelakuin itu. Beneran deh, maaf banget. Aku rela ngapain aja asalkan kamu maafin aku,” katanya berlutut di hadapanku dengan menggenggam sekuntum mawar putih.
Anjir, kenapa dia bisa tahu kalo aku suka mawar putih. Ah, gini banget sih Tuhan. Terima nggak ya? Pingin bunganya sih. Kalo aku nggak diterima? Ah aku munafik dong. Bingung, terima aja deh.
“Oke aku maafin karena kamu bawa bunga kesukaanku. Tapi ada syaratnya. Nanti setelah bel pulang aku akan memberikan persyaratannya kepadamu. Awas kalo kamu ngelanggar. Aku tunggu di taman,” kataku sambil menerima bunga dari genggaman tangannya.
“Baiklah, terima kasih,” katanya mengiyakan sambil memelukku dengan erat.
“Eh apaan modus kamu ah! Udah lepasin, nggak aku maafin lho!!!” bentakku sangat keras dan berusaha untuk melepaskan pelukannya.
“Iya-iya maaf. Reflek kali,”  serunya.
Haha, ian-ian. Kamu lucu ya. Romantis, lucu, kadang nyebelin, kamu itu selalu punya cara agar aku mencintaimu. Entah apakah ini namanya. Tuhan aku sedang jatuh cinta......