Kita sahabat, memang kita sahabat. Aku tahu dan aku paham akan semua tingkahmu. Kamu sahabat terbaikku. Awalnya hanya iseng, namun aku mulai sayang dan menganggapnya menjadi sahabatku sendiri. Kami mulai akrab semenjak saat kita keluar bareng. Sudah tiga kali mungkin. Yang pertama ke MOG bersama kedua sahabatku. Luluk dan Widya. Awalnya memang iseng untuk mengajaknya. Namun tak apalah. Toh, dia juga mau.
Hal yang paling menyebalkan saat Luluk dan Widya mencoba untuk kabur dariku. Mereka memang suka begitu. Memasang-masangkan sahabatnya ini. Karena mereka tahu kalau aku dan dia sama-sama single. Tapi akukan lagi kasmaran sama sahabatnya sendiri. Nggak mungkin dongg kalo aku suka sama sahabatnya ini. Haha, rumit deh! Awalnya kami berdua hanya berdiam, namun dia memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Kamu nggak ngajak Iqbal?" katanya. "Udah tak ajak tapi dari tadi hpnya mati. Nggak tahu kemana," jawabku dengan muka melas. "Coba smsen lagi a! Ajaken kesini," dengan nada sedikit memaksa. "Iyawes." Beberapa menit kemudian hpku bergetar dan rupanya dia sudah membalas pesanku. "Nesa, maaf aku nggak bisa keluar sekarang. Soalnya aku lagi sama papa. Nyari tiket Arema. Nyari dimana ya say? Dari tadi nggak dapet-dapet." Aku mendesah. Nggak bisa lagi nggak bisa lagi. Keluhku dalam hati. "Yawes sayang, hati-hati. Gapapa wes kamu nggak ikut. Tapi lain kali bisa kan?" Tombol kirim segera ku pencet. Namun tak ada laporan pegiriman. Hpnya mati lagi rupanya. Aku memelas agar sahabatku satu ini bisa membujuk Iqbal untuk pergi jalan-jalan ke MOG bersama kami. Karena mereka satu kelas. Namun dia berkata "Gak iso nes, hpne mati." "Walaaaaah, yaweslah terserah." Lalu sahabatku ini bertanya lagi. Dia memang orangnya kepo sekali.
Dia: "Lho, kamu nggak pernah keluar sama dia tha?"
Aku: "Mek satu kali."
Dia: "Satu kali? Yang bener?"
Aku: "Iya bener."
Dia: "Emang kemana?"
Aku: "Ke Matos lhooo"
Dia: "Lapo?"
Aku: "Dia ngajak ke rumah hantu." Dia terdiam seketika. Akupun melanjutkan ceritaku. "Tapi sayangnya aku nggak ikut masuk. Dia sama Irfan. Pas itu aku sama adek kelasku. Huaaa, nggak jadi kencan wes. Tapi irfan e mesti nggudo terus ae."
Dia: "Lho lha kamu kok ambek adek kelas? Emang habis lapo? Hahaha, irfan yokpo lek nggudo?"
Aku: "Pas itu ada latihan gabungan di SMP 4. Yawes tha, timbang aku sendirian. Akhir e aku ngajak dia ke matos. Irfan lho ngomong lek aku pacaran sama Iqbal. Padahal yo enggak."
Dia: "Lho iyo a? Aku tahu e kalian wes jadian. Lha smsmu ambek Iqbal lho sayang-sayangan ndek sms. Anak sekelas tahu semua."
Aku: "Iyo a yo? Gendeng-___-"
Pembicaraan itu terhenti saat Luluk dan Widya berada di depan kami.
Setelah itu, pertemuan kedua kami saat Ulang tahunku. Itu sudah aku jelaskan di posting yang sebelumnya. Saat itu, aku benar-benar yakin kalau dia sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dan disaat itu pula, aku dengan Iqbal keluar kedua kalinya juga. Senang sih, asik.
Yang ketiga, dia mengantarkanku pulang ke rumah saat sepulang les. Awalnya aku hanya iseng untuk menyuruhnya menungguku. Karena dia juga ada tambahan les malam saat hari Selasa dan Kamis. Tak menyangka sebenarnya. Tapi, tak apalah. Hanya sekali ini saja. Di sepanjang jalan pulang, dia bercerita banyak tentang pacarnya yang memang banyak sekali masalah. Yang masih aku ingat. Dia cemburu karena pacarnya sedang keluar dengan mantannya. Pacarnya dibonceng oleh cowok lain. Dan dia merasa sangat cemburu dan ingin mencoba balas dendam dengan mengantarkanku pulang.
Bodohnya dia, dia bilang ke pacarnya. Kalau saat itu aku sedang diboncengnya. Bodoh, bodoh sekali. Aku sahabatnya yang bodoh. Karena aku dianggap sebagai pelampiasannya. Hih! Mangkel.
Tapi, saat itu aku merasa senang bisa bercerita banyak dengannya. Namun, sepertinya kejadian itu tak aka terulang lagi. Ya, mereka sedang dilanda masalah LAGI!
Lagi-lagi dia melampiaskan semua kepadaku. Dengan cara tidak pernah menghubungiku. Smspun jarang. Kalau dulu sering telpon-telponan, sekarang hampir tidak pernah.
Lagian aku paling bete, kalo ketemu dia. Nggak pernah nyapa. Di sms cuek. Yawes, aku menghindar aja dari pada bikin ulah.
Beberapa minggu kemudian, Icha disms olehnya. Katanya, "Mana nesa, kok nggak pernah sms aku lagi? Aku kangen dia he."
Aku shock, weeng? Apakah dia masih ingat denganku?
Tanyaku dalam hati. Ichapun mengerti apa maksudku. "Aku lho ya gatau. Moro-moro dia sms aku gitu. Yawes ta tak balesi."
Aku: "Emang kamu mbales apa?"
Icha: "Gini, kamu lho kok tiba-tiba datang nyari nesa? Kemarin kemana aja? Dia marah sama kamu. Soalnya, dia itu ngiranya kamu datang sebagai pendampingnya dia. Trus tiba-tiba kamu ngilang. Trus tiba-tiba nyari dia lagi. Dia udah nglupain kamu."
Aku: "Terus dia bales apa?"
Icha: "Iya taah? Masak se? Sama mimik wajah yang kayak gimana gitu. Kayaknya di nyesel deh."
Aku: "Iya a? Terus gimana?"
Icha: "Yawes, aku nyuruh dia buat nyapa kamu. Lha emang selama ini kamu ngomong kalo dia nggak pernah nyapa lagi. Iya kan?"
Aku: "Iyase chaa. Terus juga jarang sms. Lek sms mesti mek butuh e tok. Aku terus sing sms dia duluan."
Icha: "Iya nes. Aku udah nyuruh dia gitu."
Aku: "Yawes, eh tapi yaaa ngomong-ngomong kamu kok sms dia kek gitu se? Alasanmu lho? Aku nggak sayang dia. Cuma pengen jadi sahabat terus aja."
Icha: "Halah, iya apa iya? Jangan bohong nesaaa:p"
Aku: "Ah, ichaaa. Beneran deh. Aku tuh cuma gak mau dia pacaran sama anak itu."
Icha: "Iya nes. Sama, kayaknya dia cuma dimanfaatin gitu sama pacarnya. Yo kasian tha."
Aku: " Nah mangkane itu cha, aku kan mencoba menghindar ya gara-gara itu. Mek pengen dia ngerti."
Icha: "Iyo se nes. Tapi ya gimana lagi? Perasaan mereka lho. Kayak nggak mau dilepasin."
Aku: "Iya chaa, begonya dia. Dia masih mempertahankan hubungan yang rumit kek sekarang ini."
Tak ada habisnya aku berbicara dengan icha tentang dia. Maklum saja, dia yang seharusnya bertindak. Dan jangan mau diinjak-injak. Tapi apalah daya. Aku tak bisa memaksakan perasaannya. Biarlah dia saja yang menyelesaikan ini semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar