Pahamkan Aku, Cinta!
Seandainya kau tahu. Panah asmara ini
menghujam hatiku. Aku yakin kau masih tak paham. Dan aku mengerti, ini bukanlah
segalanya. Cinta, mengertikah kau tentang cinta? Seberapa dalam kau
mencintaiku? Apakah kau peduli padaku? Mengapa semua berubah? Benarkah ini
cinta?
Seseorang meyakinkan bahwa ini benar-benar
cinta. Namun aku tak ingin kehilangannya. Aku hanya ingin kita sebatas sahabat.
Ingatlah, aku sudah milikinya. Tuhan, inikah rasanya sahabat menjadi cinta?
Iyakah? Tuhan tolong yakinkan aku. Aku tak ingin kita berpisah di kala nanti.
Aku ingin kau mengerti. Namun apalah daya, aku juga menikmatinya. Aku juga
merasakan rasa yang sama.
Apakah aku salah bila mencintainya? Apakah
aku harus pergi menjauh darinya? Namun bagaimana dengan perasaannya nanti?
Mengapa semua ini terjadi? Aku memang salah jika harus mencintainya, namun
bagaimana lagi? Semua harapan telah musnah. Aku lebih nyaman dengannya bukan
denganmu! Kemana kah engkau selama ini? Apa kau mengingatku? Aku tak yakin.
Nesa, ini semua salah. Tuhan tolong
hentikan semua ini. Aku mohon. Aku tak ingin mencintainya, walau sebenarnya aku
merasa nyaman dengannya. Tuhan, aku takut. Aku takut jika harus mencintainya
dalam hidupku. Kali ini aku benar-benar tak ingin kehilangannya. Hanya dia yang
aku mau.
Semua seolah berubah setelah ada dia. Dia mungkin
hanya dia yang mengerti aku. Yang paham dengan semua masalahku, selalu
mendukungku, bahkan dia selalu menasehatiku. Dia sosok yang dewasa dan luar
biasa. Namun jika dibandingkan denganmu, seolah berbeda. Sangat berbeda 180º.
Dia yang selalu bisa meyakinkanku, namun
dirimu? Kamu selalu tak ada jika aku membutuhkanmu. Tapi aku selalu mencoba
untuk diam. Karena ku tahu, kamu akan kecewa mendengarnya. Tapi, apakah aku
harus selalu menutup-nutupi kebohongan ini? Jika aku berbohong, pasti akan muncul
kebohongan-kebohongan lainnya.
Semua ini menyebalkan. Sangat menyebalkan!
Dimana kamu selalu berhasil merayuku. Sedangkan kamu? Kamu hanya pemberi
harapan palsu. Kamu selalu memberi janji yang tak nyata. Apakah aku harus
mempertahankanmu lagi? Mengingat kamu selalu tak punya pilihan. Kamu bukan pria
dewasa yang aku mau. Kamu bukan sosok yang selalu ku rindukan.
Jangan salahkan aku, jika aku bersikap
begitu. Bagaimana bisa aku harus terus-terusan jadi wanita yang pendiam dan mau
disakiti? Walaupun aku diam, namun aku tak akan kalah! Kamu yang tak pernah
menghubungiku membuat suasana hatiku kacau. Mengapa tidak? Iya bila kau tak
macam-macam dengan wanita lain. Namun jika iya? Taukah kau apa yang akan
terjadi? Apakah kau juga merasakan hal yang sama denganku? Tentu tidak!
Aku yakin padamu tapi aku juga
mengharapkannya<3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar