Sudah, ini akan jadi yang terakhir. Gak akan bahas IQBAL lagi. Karena aku telah menemukan penggantinya. Walau mungkin, rasa sayangku ini belum seberapa ke dia tapi aku akan berusaha mencintainya dengan tulus<3
Aku tak ingin mengecewakannya. Tak ingin lagi. Lagipula, aku juga lelah menunggu dan menunggu. Apakah hal itu yang akan selalu aku dapatkan? Iyakah? Aku bosan, aku muak! Tak ingin rasanya mengingatmu lagi.
Aku ingin melupakanmu, tapi kau selalu datang di kala itu.
Namun, jika aku ingin mendekat kau selalu saja menghindar.
Apakah artinya semua ini?
Apakah artinya penantian panjangku?
Sudah siapkah kau menerima balasan yang setimpal denganku?
Sudah siapkah kau melihatku bersama laki-laki lain?
Apa kau sanggup?
Apa kau akan selalu tersenyum?
Sudahlah, aku muak denganmu.
Aku hanyalah bidadari penolong malaikat.
Aku hanya tak ingin melihatmu terluka.
Bahkan, aku rela bila aku terluka demi melihatmu bahagia.
Puaskah kau sakitiku?
Puaskah semua pembalasanmu?
Kamu hanya ingin membalas perasaanmu yang tertundakan?
Kamu hanya sayang sama FIRYA kan?
Iya kan?
Jika IYA, apakah artinya aku di matamu selama ini?
Apakah aku salah jika aku hanya ingin melihatmu bahagia?
Sampai-sampai aku tak rela melihatmu bersama dengan wanita lain.
Apakah ini cinta?
Sungguh, ini terlalu rumit untuk di selesaikan.
Lalu, apa yang kamu maksud dengan KATA SAYANGMU terhadapku?
Apakah itu hanya pelarian semata?
Kamu hanya berpura-pura agar aku senang?
Begitukah?
Terserahlah~ aku tak ingin membahas tentang kamu lagi.
Aku hanya bermimpi memilikimu.
Aku hanya bisa menggapaimu di mimpiku, namun aku selalu tak sanggup bila harus menggapaimu dalam kisah-kasih cinta di hatiku.
Ku hanya mewarnainya dengan warna HITAM. Abadi dan gelap.
Cintaku ke kamu selalu abadi, sayangku ke kamu juga akan selalu abadi.
Namun, semua selalu gelap.
Entahlah jika semua itu akan berakhir.
Semua tak ada yang abadi.
Jadi, tolong aku SKIP nama IQBAL dari hidupku sekarang juga.
DELETE..
Selamat tinggal kenangan indah yang pernah kita jalani bersama<?3
Senin, 24 Desember 2012
Pelangi di Malam Hari part 2
December 17th,
2012
Happy Birthday
ICHAAAA..
Hari
ini hari ulang tahun Icha, dimana bombot(pacar icha) telah mempersiapkan hadiah
untuknya. Hadiah apakah itu? Sesuatu yang benar-benar diimpikan saat kita ulang
tahun. Ya, kue tart! Kue tartnya kali ini sudah dihias sedemikian rupa agar
terlihat bagus♥ kue tart itu bertuliskan “Happy B’day ICHA J”
semua sudah siap, namun bombot tak kunjung datang ke rumahku. Lamaaa
menunguuu..
Rupanya,
dia baru saja selesai mandi. Dan ternyata, dia berada di rumah Iqbal. Katanya
sih, Iqbal sama Ardi sama-sama belum mandi(?) Weng. Padahal Icha setelah ini
mau mengajak makan malam, ada traktiran rupanya. Setelah maghrib, semuanya
telah siap. Kamipun berangkat mengendarai sepedah motor masing-masing.
Namun,
rupanya kali ini ada kabar buruk. Aku dan Icha kehilangan jejak mereka. Icha
ngebut sih-__- aku menyuruh Icha untuk menepi. 5 menit kemudian, kami masih
saja tak menemukan mereka.
“Apa
balik aja ya?” kata Icha terhadapku.
“Ya
sudah, ayo!”
Icha
mulai menancapkan gasnya lagi. Memutar balik ke arah sebelumnya.
“Nesa,
kamu lihat kanan jalan ya,” katanya dengan nada sedikit kecewa.
“Iya
cha, aku lihat kanan jalan kok. Kamu konsentrasi ke jalan aja. Soalnya kamu
yang nyetir-__-“ Icha hanya mengangguk.
Dalam batinnya,
ia sangat tersiksa.
“Mengapa
harus berpencar seperti ini?” namun, aku hanya membiarkannya agar tak memancing
emosinya.
“Icha,
putar balik! Itu Iqbal sama Mas Afif,” kataku dengan melihat ke arahnya terus.
Kali ini, aku tak ingin kehilangan mereka (lagi).
Icha
meretting kendaraan kami, namun Icha marah terhadapku.
“Lho
nesa, mana?”
“Di
depan cha!”
“Mana
sih? Gak ada gitu?”
“Ada
cha, di depan! Buruan~”
Icha mempercepat
laju kendaraan, seolah dia tahu maksudku. Aku tak ingin berpencar seperti ini
lagi! Akhirnya, kami pun pergi ke tempat yang sudah ditentukan Icha. Namun sepertinya,
kali ini bukan Icha yang memutuskan. Mas Afif! Iya, dia yang memarkirkan
sepedah motornya di daerah Losari. Tau gak kalau disana makanannya mahal-mahal?
Halooo-_-
Icha
disibukkan oleh memilih tempat makan dan bukan hanya itu, dia disibukkan pula
oleh Bombot. Aku tak tahu mereka membicarakan apa. Yang aku tahu, aku hanya tak
boleh mendengar percakapan mereka. Di samping itu, ketiga cowok kita yaitu: Mas
Afif, Iqbal, dan Ardi sedang asyik berfoto-foto. Bayangkan saja, aku sangat
bosan dengan keadaan itu. Ayolah, saat ini aku sedang tak enak badan. Tolong
jangan biarkan aku sendirian.
Tak
lama, Icha menghampiriku. Untunglah dia paham dengan keadaanku saat ini. Aku
menunggu mereka di parkiran, aku hanya duduk terdiam. Bahkan aku tak sadar jika
kue tart yang tadinya di pegang Bombot telah jatuh. Dia menaruhnya di
sebelahku. Maaf, sungguh aku tak sadar. Dengan cekatan dia mengambilnya. Dengan
spontan, aku meminta maaf kepada Icha. Namun, Icha tetap saja tak mengerti apa
maksudku. Karena aku hanya meminta maaf tanpa menyebutkan apa permasalahannya.
Aku meminta
maaf ke Bombot, namun tak didengar. Dengan wajah yang sedikit muram dan marah
aku mengajak Icha untuk membeli obat di toko seberang. Awalnya, Icha menolak
karena dia ingin Iqbal yang membelikan aku. Namun… aku menolak jika dia yang
membelikan aku. Aku menarik Icha dengan segera. Di perjalanan menuju toko itu,
aku sempat memarahinya.
“Icha,
please aku nggak mau kamu mojokin aku sama Iqbal. Udahlah, lagian aku sudah
menjalin hubungan dengan Vicko! Tuhan, kenapa selalu begini? Kalau aku mau
pergi dari kehidupan Iqbal, pasti Iqbal bakalan muncul lagi kayak gini. Aku
bosaaann!” kataku kepadanya.
“Ya
sudahlah, sabar. Oh ya, kamu beli tolak angin berapa?”
“Satu
aja.”
Tanpa basa-basi
Icha lalu membelikanku tolak angin. Eits, flashback dulu ya! Tadi, waktu Icha
nyuruh Iqbal untuk membelikan obat untukku dia berasa kaget dan aneh. Apakah ia
khawatir terhadapku? Apakah masih ada rasa itu untukku? Aku sempat tersenyum
untuk melihat wajahnya yang sedikit khawatir terhadapku. Namun, sudahlah aku
hanya bayang-bayang penghalang untuknya.
Langkahku
begitu berat, badanku terasa panas tapi untunglah obat yang tadi aku minum
membuatku sedikit baikan. Aku ingin membuktikan kepada Icha, aku menarik
tangannya dan dengan sengaja aku menaruh tangannya di leherku.
“Nesa,
kamu panas?”
“Iya,
tapi gak apa-apa kok! Ayo cepetan makan, terus pulang.”
Ia tetap
berjalan menyusuri sudut-sudut kota. Namun, ia berhenti di depan lapak penjual
nasi goreng yang dulu pernah kami kunjungi.
“Makan
nasi goreng aja gimana?”
“Ya
terserah wes,” semua mengiyakan ajakan Icha.
Kami memilih
tempat duduk. Hanya bangku paling depan yang masih kosong. Dan sekiranya, kami
pun duduk di bangku tersebut. Kami memesan makanan. Dengan perasaan was-was
akan kue tart yang telah aku hancurkan tadi, aku hanya memilih diam. Semua
bercanda, namun mereka juga berfoto-foto disana. Aku tak ikut, aku hanya diam
dan tak berkutik. Namun sesekali aku mengajak Icha bicara.
Kali ini,
topik pembicaraannya Aku dan Iqbal. Tuhkan, paling sebel kalau dipojokkan
seperti ini lagi. Kalau dulu, aku akan menerimanya. Namun sekarang? Aku telah
berpacaran dengan Vicko. Aku tak mungkin bisa tertawa lepas disana.
Semua terdiam
karena telah mengetahui pesanan kami datang. Tapi, kali ini mungkin lebih seru
dari pada ulang tahunku kemarin. Ya sudahlah, tak mengapa. Kami menyantap
makanan dengan lahap. Namun, aku lupa. Aku batuk, dan seharusnya aku tak
memakan makanan yang mengandung minyak dalam jumlah besar. Tapi apalah daya,
aku sudah memesannya. Berarti aku harus menghabiskan makanan itu.
Saat itu,
semua sudah selesai mengecap makanan. Dan aku pun juga telah menyudahinya. Kami
beranjak dari tempat duduk. Eh, ada yang lupa! Kue tartnya Icha belum
dinyalakan. Dengan gaya sok cepat, aku pun menancapkan lilin-lilin kecil
diatasnya dan menyalakannya.
“Icha,
make a wish dulu!” kataku.
“Ayo
foto!” kata Icha.
“Ayoo…”
aku pun menyetujuinya.
“1…2…3..
Cheese!” kata Iqbal dengan spontan karena kami tahu dia yang memegang kamera
milik Ardi.
Tiba-tiba,
Mas Afif dengan sadar mencengkram kue tart Icha. Dia menghancurkannya lagi! Namun
kali ini beda, dia menaruh roti yang lengkap dengan creamnya itu di muka Icha. Dengan
spontan kami tertawa. Namun aku tak sadar, rupanya Icha juga ingin membalasnya.
Akulah sasaran empuknya. Karena aku berada tepat di depan Icha. Tapi tak hanya
aku, semua kena cream kue tart itu. Namun, hanya wajah seseorang yang masih
bersih tak belepotan. Iqbal! Iya dia, betapa marahnya aku mengetahui itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengejarnya.
Kejadian
itu telah menyapu keheningan malam. Kami tahu saat ini udara semakin menusuk
tulang-tulang rusukku. Kami harus pulang. Tetapi aku tak mau berhenti kalau
Iqbal belum kena! Yeyeye..
Aku
mengancamnya. Jika dia belum kena, maka jok sepedah motornyalah yang menjadi
sasaran empukku. Haha. Namun sepertinya ini sudah terlalu malam, akhirnya Icha
mengambil tindakan. Dia mengejar Iqbal dan menangkapnya. Icha berbicara
sedikit, namun aku tak bisa mendengarnya. Aku putuskan untuk mendekat. Kali ini
Iqbal tak menolak. Aku mencolek cream yang ada di jariku ke pipinya.
“Sekali
aja, Bal!”
Ia
hanya pasrah dan menerima kenyataan. Haha. Lalu, dia membasuh mukanya di tempat
air yang berada tak jauh dari sepedah motorku. Dia mengucapkan selamat ulang
tahun kepada Icha.
“Cha,
happy birthday ya! Makasih lho.”
“Iya,
sama-sama! Lho nggak pamitan sama Nesa tha?”
Dia hanya
tersenyum malu. Aku pun juga begitu terhadapnya. Akhirnya, dia memberanikan
diri untuk berpamitan kepadaku. Aku pun iseng menaruh coklat di tangannya saat
kita bersalaman. Dan dia hanya tersenyum dan tak mengucapkan apapun.
“Aku
pulang dulu ya,” kata-katanya tak jelas di telingaku.
Namun,
saat itu aku benar-benar senang bertemu lagi dengannya. Dan memegang tangannya
untuk kedua kalinya. Tapi sayang, aku tahu semua itu hanya mimpi. Dan aku hanya
bisa menggapainya di mimpiku. Namun tak apalah. Saat itu, aku hanya bisa
berterima kasih terhadap Icha. Dan hal yang paling buruk, sepulang dari acara
itu aku selalu senyum-senyum sendiri.
Iqbal,
katakanlah jika kamu benar-benar menyayangiku({}) Aku selalu menunggumu♥
Rabu, 12 Desember 2012
Disetiap kisah hidupku selalu ada kamu
Disetiap
kisah hidupku selalu ada kamu. Aku ini bodoh! Aku lebih memilih mempertahankan
hubungan yang nggak jelas ini. Bahkan aku rela menolak seseorang yang
benar-benar mencintaiku. Aku tak pernah mengerti isi hati orang lain. Aku nggak
peka! Iya kayak rasamu ke aku saat ini. Mungkin, saat ini aku cuma ngebalas
rasa yang nggak kesampaian itu. Tapi bodohnya aku, aku melukai hati seseorang yang
mencintaiku. Mungkin nggak hanya sekali, berkali-kali! Gila, aku menyia-nyiakan
perasaan mereka. Maaf ya, sekarang aku merasakan. Aku benar-benar kehilangan
mereka. Mereka yang dulu menyayangiku. Mereka yang dulu selalu ada untukku. Tapi
sekarang? Aku baru merasakan kehilangan. Seseorang yang dulu pernah memperhatikan
aku. Bahkan mereka peduli akan keadaanku. Hey, saat ini aku benar-benar
kesepian! Tolong hibur aku. ({})
Seakan-akan
aku telah menghilang dari sini. Di kehidupan ini, aku tak ingin menunggu hal
yang tak pasti. Tuhan, berilah aku kesempatan. Aku ingin memutar waktu. Aku ingin
semua terulangi. Aku ingin mengulang saat-saat mereka menyayangiku,
menganggapku ada. Aku ingin menghilang dari dunia ini. Kali ini, sungguh aku
merasa terasingkan. Tuhan, mengapa semua ini terjadi?
Titik-titik
hujan mengalir deras, sama seperti air mata ini. Aku hanya kangen denganmu. Sesosok
laki-laki yang tampan, berani, dan pandai. Namun kali ini kau telah melukai
hatiku. Aku ini hanya wanita biasa. Aku punya hati! Aku punya perasaan! Tolong hargai
aku. Lihatlah aku, aku hanya ingin kau tahu. Aku telah lama menunggu, aku telah
sabar menantinya. Namun……. Kau sia-siakan juga perasaan ini? Semua ini membual.
Dirimu tak kunjung datang saat aku membutuhkanmu. Tapi, dulu aku selalu
berusaha untuk mendatangimu saat kau membutuhkan aku. Mengapa Tuhan? Mengapa?
Bagaimanakah
nasib cintaku ini? Hatiku masih hidup di ragamu. Masih saja aku menganggap kamu
sebagai cintaku, seperti dahulu. Saat kita bersama, melewati hari-hari ini
berdua. Semenjak kau menghilang, semua berubah. Aku tak lagi ingin mengenal
cinta. Karena harapanku telah musnah. Kau musnahkan begitu saja. Sungguh, aku
benar-benar terpikat oleh pesonamu. Namun, kau campakkan aku begitu saja? Laki-laki
macam apa kau itu? Aku telah mencoba untuk melupakanmu. Namun, hasilnya selalu
bulat “KU TAK BISA MELUPAKANMU, KASIH. TUHAN TOLONG! AKU INGIN DIRINYA, RINDU
PADANYA, RINDU, RINDU, DAN SELALU MEMIKIRKANNYA.” Aku lelah menunggu!
Tolonglah,
bukakan pintu hatinya Tuhan! Sadarkan dia bahwa aku sangat mencintainya.
12-12-12
Rabu, 12-12-12
Hari ini nggak ada yang istimewa, nggak ada surprise,
dan hari ini aku masih jomblo. Ya Tuhan, apa salahku? Mengapa kau membiarkan
hamba-Mu ini menjalani semua sendirian? Aku tahu, pasti Engkau benar-benar
menyiapkan seseorang itu kan? Aku ingin segera menemuinya. Aku ingin selalu di
sampingnya. Tuhan, kali ini ada perasaan yang tak biasa.
1.
Vicko? Siapa dia? Apakah dia
seseorang yang telah kau siapkan itu? Mengapa kali ini, aku benar-benar
menganggapnya seperti dahulu. Saat rasa sayang dan cintanya hanya untukku? Mengapa
semua ini terjadi? Tidak boleh, tidak! Saat ini, perasaannya bukan untukku
lagi. Dia berhak mencintai siapapun Nesaaaa! Tuhan, mengapa aku benar-benar
cemburu saat aku tahu dia sudah bersamanya? Apakah ini karma? Iyakah? Aku menyesal
karena telah menolaknya. Sangat menyesal. Aku sayang kamu he! Aku masih ingin
kamu selalu ada di sampingku. Entahlah, saat ini aku hanya bisa menunggu. Maafkan
aku, aku bersikap seperti ini karena aku telah terbiasa dengan perhatianmu kepadaku.
Dan saat ini, saat perhatianmu tak lagi untukku aku merasa terpukul. Aku terpuruk.
Mengertilah! Vicko, maafin aku ya. Dulu aku selalu nyakitin kamu. Kamu sampai
nangis gara-gara aku. Kamu parno tau gak? Tapi karena sifatmu itu, aku jadi
sayang beraaaaaat ke kamu. Maafin aku ya, aku masih belum bisa bahagiain kamu.
2.
Telah kucoba menghapus bayang-bayang indah
denganmu, namun selalu aku merindu lagi. Lagi-lagi aku mengharapkan kamu, Bal!
Iqbal………………… dia, seseorang yang selalu bisa membuatku tersenyum saat membaca
pesan darinya. Dia seseorang yang perhatian, baik, dan aku bisa merasakan
cintanya selalu tulus. Dia pintar, rajin sholat, super duper+++ deh. Dia
humoris, suka ngegombal dan satu hal lagi yang aku masih benar-benar
menyimpannya di kepalaku. Tanding! Cara mainnya lama-lamaan bertahan untuk
menahan ngantuk. Kata Iqbal, “Kamu lho kalau kalah nggak usah ngambek, kan kamu
udah menangin hatiku” Ciyaaa, dengernya langsung terbang melayang tinggi di
langit ke tujuh. Entahlah, aku tak tahu pasti benar atau tidak perkataannya
itu. Sudah-sudah, bahas yang lain aja yaaa.. Dia, hanya dia yang aku pikirkan. Iya,
dulu hanya dia yang aku pikirkan. Aku menolak VICKO karena IQBAL. Aku pikir, Iqbal
akan menembakku dan bisa membuatku bahagia. Namun, sepertinya dugaanku salah. Satu
tahun aku menunggunya. Selalu menunggu. Tapi, semua sia-sia. Dia tak pernah
mengungkapkannya. Berkali aku mencoba untuk melupakan dia, namun bayangan dia
selalu muncul. Selalu menghantui diriku. Tuhan, mengapa semua jadi begini? Jika
aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku akan menerima VICKO! Iya, aku akan
menerimanya. Tuhan, apakah ini karma? Engkau membalas perbuatanku dengan
mengirim Iqbal? Iyakah? Tuhan, aku tak mau berlarut-larut dalam masalah ini. Aku
muak! Aku harus pergi untuk melupakan Iqbal, namun mengapa hatiku berkata TAK
SANGGUP PERGI? Tuhan, inikah yang dulu pernah dirasakan Vicko? Iyakah? Tuhaaaannnn,
maafkan aku. Vickooooo maafin Nesa ya. Nesa tau nesa salah, salah banget. Aku nggak
mau dibales kayak gini lagi. Sakit! Mending kalau kayak gini, seharusnya dari
dulu aku sadar kalau Vicko sayang banget ke aku. Ya, seperti perasaanku
sekarang ke Iqbal. Sama banget. Vicko, aku nggak heran kok kalau kamu sampai
nangis. Wajar aja, kamu nggak berhak disakiti Vicko! Seharusnya kamu berontak
aku! Seharusnya kamu ingetin aku! Seharusnya kamu dulu yakinkan perasaanmu ke
aku. Seharusnya kamu marahin aku. Tolong, aku nggak mau disakiti lagi.
Saran aja sih, kalau
kalian nggak mau disakiti tolong jangan sakiti orang lain. Apalagi seseorang
itu benar-benar mencintaimu. Tuhan itu Maha Adil, mungkin yang aku rasakan ini
adalah teguran dari-Nya. Teguran supaya aku ingat siapa yang telah memberi segala
sesuatunya untukku. Kalau bahasa kerennya KARMA gitu sih, haha.
Cinta selalu
membingungkan, cinta bikin hidup rumit. Tapi jika kita tak merasakan cinta,
berarti kita tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan untuk kita. Tuhan
menciptakan kita berpasang-pasangan. Jadi jalanilah hidup ini dengan cinta. Walaupun
cinta membingungkan, namun cinta terkadang membuat hidup kita berwarna saat
menjalaninya dengan seseorang yang kita sayang. Seseorang yang bisa merasakan
denyut jantungmu, seseorang yang bisa merasakan tawa dan tangismu.
Hargailah cinta. Jangan
kau sia-siakan seseorang yang benar-benar mencintaimu, karena dia sebenarnya
adalah jodoh yang Tuhan berikan. Terima dia apa adanya, terlebih lagi cintai
dia karena kekurangannya. Karena dari kekurangannya itulah kamu bisa merasakan
cinta. Jika kamu tak menginginkannya, suatu saat kamu akan merasakan sakit yang
dalam setelah kamu kehilangan dia. Jadi, jangan sia-siakan seseorang di
sekitarmu, yang selalu mencintai, dan mendukungmu.
Satu lagi, tanggal
12-12-12 bukanlah angka yang istimewa sebenarnya. Jadi, tolonglah jangan
mempercayainya sebagai tanggal keramat atau pembawa keberuntungan. Karena semua
nasib manusia telah diatur sendiri oleh yang di atas.
Langganan:
Postingan (Atom)