Sabtu, 08 Maret 2014

De La Seine Fleuve




Nah kali ini Nesa pingin bahas tentang Sungai Seine, ada yang tahu letaknya dimana?
Langsung aja ya, Sungai Seine terletak di Kota Paris. Kalian tahu nggak sih, Sungai Seine ini sebagai ikon pariwisata Kota Paris lho. Selain itu, sungai ini juga digunakan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat disana. Kebutuhan air untuk pembangkit listrik tenaga nuklir dan panas juga diambil dari sungai ini. Sebagian warga Paris pun mengonsumsi air bersih hasil pengolahan air yang berasal dari Sungai Seine, di pusat-pusat penampungan dan pengolahan air sungai yang tersebar di Kota Paris. Sungai Seine juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha pembenahan Kota Paris.
Seine yang merupakan sungai terpanjang kedua di Prancis setelah Sungai Loire, yang awalnya hanya memenuhi fungsi tradisionalnya, yaitu sebagai sarana transportasi air dan kanal pembuangan pun ditata dan diperdayakan secara multiguna. Pemerintah Perancis menerapkan potensi kekayaan alam untuk kemakmuran warganya. Panjang Sungai Seine ini mencapai 776 km.
Riwayat Sungai Seine
Hingga pertengahan abad ke-18, Paris masih menjadi langganan banjir karena luapan Sungai Seine yang melintasi kota parfum tersebut. Dalam catatan sejarah Kota Paris, banjir hebat pernah terjadi pada tahun 1740 dan pada tahun 1801-1802.
Lebih dari itu, selokan yang berbau busuk merupakan pemandangan sehari-hari di Kota Paris. Akibatnya pada tahun 1830, muncul epidemi kolera yang mengerikan. Pekerjaan besar terkait dengan masalah di atas, diawali oleh Napoleon Bonaparte dengan membangun tanggul di Dermaga d’Orsay, yang membentang dari Pont (jembatan) Royal hingga Concorde. Pekerjaan besar tanpa jeda ini dirampungkan pada 1806. Pembangunan tanggul baru dilanjutkan setelah jeda 2 tahun, yaitu pada Maret 1808-1812.
Akhirnya hasil kerja hampir 10 tahun tersebut menghasilkan tanggul sepanjang 3 km yang membentang dari Pont Royal hingga Dermaga Montebello. Pekerjaan besar yang lain dilanjutkan oleh kemenakan Napoleon Bonaparte yang menyandang gelar Napoleon III. Dia menugaskan Baron Haussmann, seorang ahli perkotaan Prancis untuk melakukan restorasi total Kota Paris.
Tidak tanggung-tanggung, untuk memenuhi ambisi tersebut, Haussmann melakukan pekerjaan raksasa dengan membongkar hampir 50% permukiman penduduk, termasuk menggusur rumah seniman besar Victor Hugo. Tapi terbukti, kini Paris bertransformasi menjadi kota yang indah.



Sungai Seine dapat dibagi menjadi lima bagian:
a)      Petite Seine "Seine Kecil" dari sumber menuju ke Montereau-Fault-Yonne
b)      Haute Seine "High Seine" dari Montereau-Fault-Yonne ke Paris
c)      Traversée de Paris "the Paris waterway"
d)     The Basse Seine "Low Seine" dari Paris ke Rouen
e)      Seine maritim "Maritime Seine" dari Rouen ke Selat Inggris.

Terdapat 37 jembatan di Paris dan puluhan lainnya mencakup sungai di luar kota. Contoh di Paris termasuk Pont Louis-Philippe dan Pont Neuf. Luar kota, contoh termasuk Pont de Normandie, salah satu terpanjang jembatan kabel di dunia, yang menghubungkan Le Havre ke Honfleur di Normandia, Perancis Utara. Panjangnya 2143.21 m (856 m antara 2 tiang). 


Selanjutnya kita akan membahas Pont des Arts. Pont des Arts atau Passerelle des Arts adalah sebuah jembatan penyeberangan di Paris yang melintasi Sungai Seine. Ini menghubungkan Institut de France dan alun-alun (Cour Carrée) dari palais du Louvre, (yang telah disebut sebagai "Palais des Arts" di bawah Kekaisaran Pertama). Pont des Arts ini terkenal dengan "tradisi" gembok cinta (love padlocks).




Minggu, 26 Januari 2014

Cerita Berlanjut, eps 2

            Namun seketika, bibirku memang terasa basah. Kami telah berciuman. Aku membisu. Dia yang sedang duduk di hadapanku itu tak aku hiraukan. Baru kali ini ada seseorang yang berani menciumku. Ah kenapa rasanya jantungku berdebar sangat kencang?
            “Zela? Dari tadi aku ngomong sama kamu! Kenapa diam aja?” tegas Ian.
            Aku tak menjawab, aku masih dalam lamunanku. Bodoh, kenapa masih disini sama dia sih. Iaaannn! Enyahlah kamu! Aku tak ingin melihatmu.
            “Beraninya kamu menciumku, tanpa persetujuanku!” tamparanku pun mengenai wajahnya. “Aku bukan cewek murahan ya! Kamu bajingan!” air mataku mulai mengalir deras.
            Aku beranjak dari tempat dudukku dan berniat meninggalkannya. Aku berlari sekencang mungkin.
            “Zela maafin aku, aku sayang kamu,” teriak Ian.
            Namun aku masih terus berlari. Berlari menjauh darinya. Tak tahu, mau ke arah mana aku menuju. Aku memutuskan untuk ke ruang BK untuk menemui guruku agar dapat mengantarkanku ke kelas.
            Sesaat kemudian aku telah sampai di depan kelas. Guru BK baruku ini mencoba mengetuk pintu kelas.
            “Permisi, Pak!” sapa guru BK kepada guru di dalam kelas.
            “Iya Bu, ada apa?” kata beliau, sopan.
            “Begini Pak, saya hanya mengantarkan anak baru di kelas ini.”
            “Oh iya silahkan Bu!”
            “Anak-anak mohon perhatian sebentar, disini kita kedatangan murid baru dari Jakarta. Akan lebih jelas jika kita mendengarkannya memperkenalkan diri,” kata seorang BK yang berparas cantik ini.
            “Halo, nama saya Zela Anastasya Ways. Panggil aja Zela. Saya pindahan dari SMAN 1 Jakarta. Saya pindah ke SMA ini karena mengikuti ayah untuk dinas disini,” kataku.
            “Nomer hp dongg!!” Teriak mereka.
            “Nomor handphone saya 085753878994,” kataku mengeja.
            “Alamaatt!!!” Teriak mereka lagi.
            “Jl. Pattimura no 54, kalo mau berkunjung silahkan. Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalin,” kataku dengan melempar senyuman.
            “Oke, baiklah anak-anak. Sekian perkenalannya, silahkan Zela kamu duduk di sebelah ketua kelas,” katanya mengakhiri.
            “Baiklah Bu, terima kasih,” kataku dan Bapak Guru bersamaan.
            Aku berjalan menuju bangku yang kosong tersebut.
“Ketua kelasnya siapa sih? Kok nunduk gitu? Jadi kepo kan,” gumamku dalam hati.
“Halo, kamu siapa? Kok dari tadi nunduk gitu?,” sapaku.
“Lagi nyesel nih, aku suka sama seseorang tapi aku menciumnya. Aku nyesel banget. Dia lagi marah sama aku. Gimana caranya ya biar kita baikan?,” katanya masih menunduk.
“Kasih aja bunga, barangkali dia mau memaafkanmu,” jawabku.
“Saran yang bagus, btw kamu siapa? Kok dibangku ini?,” dia mulai heran.
“Kamu sih dari tadi nunduk terus, jadi nggak tahu aku kan,” kataku sebal.
“Maaf, galau berat. Hai aku Ian,” katanya sambil mendongakkan kepalanya.
“Kamu?” ucap kami bebarengan.
“Ah bego kenapa dia sih?” gumamku dengan perasaan yang aneh. Jantungku berdetak sangat kencang. Entah kenapa, perasaan ini sama seperti saat awal bertemu dengannya.
“Zela, maafin aku. Aku nyesel udah gitu ke kamu. Aku nggak berniat untuk mempermainkanmu. Tapi jujur, aku emang suka kamu. Aku cinta kamu dari awal kita ketemu. Please maafin aku ya? Oke kamu boleh minta apapun, pokoknya aku dimaafin!” katanya panjang lebar.
Aku tak menghiraukan. Tapi dia selalu berusaha untuk mendapatkan maaf dariku.
“Ah tahu ah, udah dengerin gurunya itu lho,” perintahku.
“Iya-iya, maaf deh,” sesalnya.
Bel tanda istirahat pun berbunyi.
“Kamu nggak ke kantin?” ajak Ian.
“Lagi males keluar,” kataku sinis.
“Oke aku juga nggak deh,” katanya penuh harap.
Aku mengambil kotak makanku di dalam tas. Aku memakan bekal yang sedari pagi telah siap.
“Wah, kamu bawa bekal? Pasti rasanya enak, kamu yang bikin?” kata Ian yang mulai kelaparan, karena perutnya yang keroncongan berbunyi.
“Haha kamu laper? Ini, aaaak,” aku berusaha menyuapinya.
Kami pun memakan bekal berdua. Saat itu aku merasa nyaman berada di sampingnya. Sesekali dia yang menyuapi aku. Sekotak makan berdua itu rasanyaaa... Suasana ini sungguh romantis.
“Jadi aku dimaafin nih?” katanya dengan wajah memelas.
“Nggak, enak aja!” bentakku.
“Yah kirain udah dimaafin sama bidadariku ini. Eh ternyata belum, yaudah bentar deh mau keluar,” izinnya.
“Yaudah keluar aja,” usirku.
Tak lama dia pun kembali, namun ada yang janggal. Dia juga membawa sesuatu di balik badannya. Namun aku tidak terlalu penasaran dengan benda itu. Ah lupakan.
“Hai Zela, maafin aku ya. Aku khilaf ngelakuin itu. Beneran deh, maaf banget. Aku rela ngapain aja asalkan kamu maafin aku,” katanya berlutut di hadapanku dengan menggenggam sekuntum mawar putih.
Anjir, kenapa dia bisa tahu kalo aku suka mawar putih. Ah, gini banget sih Tuhan. Terima nggak ya? Pingin bunganya sih. Kalo aku nggak diterima? Ah aku munafik dong. Bingung, terima aja deh.
“Oke aku maafin karena kamu bawa bunga kesukaanku. Tapi ada syaratnya. Nanti setelah bel pulang aku akan memberikan persyaratannya kepadamu. Awas kalo kamu ngelanggar. Aku tunggu di taman,” kataku sambil menerima bunga dari genggaman tangannya.
“Baiklah, terima kasih,” katanya mengiyakan sambil memelukku dengan erat.
“Eh apaan modus kamu ah! Udah lepasin, nggak aku maafin lho!!!” bentakku sangat keras dan berusaha untuk melepaskan pelukannya.
“Iya-iya maaf. Reflek kali,”  serunya.
Haha, ian-ian. Kamu lucu ya. Romantis, lucu, kadang nyebelin, kamu itu selalu punya cara agar aku mencintaimu. Entah apakah ini namanya. Tuhan aku sedang jatuh cinta......

Kamis, 12 Desember 2013

Cerita Berlanjut, eps 1


                Saat aku berjalan di lapangan basket pagi tadi, ada seseorang yang memperhatikan aku. Oh bukan, dia tidak sendirian rupanya, dia bersama beberapa orang lainnya. Seseorang yang berada di paling depan itu sepertinya lumayan, mungkin dia adalah kapten basket di sekolah baruku ini. Maklum saja, dia sepertinya tidak bisa lepas dengan benda yang berada di tangannya. Ya, bola basket!
                “Pagi CANTIK! Apa kabar? Anak baru ya? Kenalkan namaku Adrian,” sapa lelaki yang berada di barisan paling depan itu.
                Aku melihat di sekelilingku, namun rupanya tak ada seorangpun selain kami. Apa dia bicara padaku? Ah dia mungkin hanya iseng. Eits, tapi jika dia tidak berbicara padaku lalu kepada siapa? Kalau saja dia berbicara padaku, akan ku tampar dia! Beraninya memanggilku seperti itu. Nggak tahu diri banget. Langkahku semakin cepat, namun sepertinya ada suara seseorang berlari.
                “Hai, selamat pagi. Aku berbicara padamu. Kenalkan aku Adrian Adji Febriansyah, maaf jika aku menyapamu begitu tadi. Aku merasa asing, sepertinya aku baru kali ini melihatmu,” katanya sopan.
                “Kamu tadi menyapaku? Oh maafkan aku. Aku Zela Anastasya Ways. Iya tak apa,” balasku ramah.
                “Panggil aja Ian, aku anak kelas XI-IPA, kapten basket, dan calon menantunya bapak presiden 2025,” katanya panjang lebar.
                “Panggil aku apa aja,” balasku bosan tak menghiraukan.
                “Sayang nggak papa dong? Eaa,” teriaknya, sambil menjulurkan lidah ke wajahku.
                “Haha, dasar kamu. Hm, boleh antar aku ke kelas XI-IPA 3 nggak?,” tawaku lepas.
                “XI-IPA 3? Kamu kelas itu kah?,” balasnya ingin tahu.
                “Iya, buruan dong. Aku bosan di sini,” tuntutku.
                “Yeay, kita sekelas!!!!” teriaknya heboh.
                “Ayo sayang!” kataku kesal.
                “Apa? Kamu bilang apa barusan?” katanya lagi.
                “Ih buruan, ya udah deh kalau nggak mau. Aku bisa sendiri,” kataku malas.
                “Iya aku antar, lewat sini tuan putri,” tuturnya norak.
                “Ah dasar kamu!,” kataku dengan senyum tipis.
                Saat kami berjalan menuju ruang kelas XI-IPA 3 tiba-tiba Ian menggenggam tanganku. Aku sontak terdiam dan menatapnya lekat-lekat. Aku ingin menuntutnya, aku tidak ingin diperlakukan semena-mena dengan seseorang yang baru aku kenal tadi pagi. Dan ingat, semua rayuannya nggak mempan!
                “Woi IAANNN!! Kemana aja sih lu? Gue nyariin lu kali,” teriak seseorang. Sontak kamipun sadar lalu aku melepas genggaman tangan seseorang yang sedari tadi ada di hadapanku itu.
                “Ya lu sih nggak ngabarin gue!” kata Adrian dengan nada tinggi, sedikit salah tingkah.
                “Oke deh. Eh siapa nih? Cantik, bohay lagi. Kok lu nggak ngenalin ke gue sih? Kita kan udah sahabatan lama. Dasar lu ah! Beginian aja cepet!,” bisik seseorang itu kepada Adrian.
                “Hm, Zela ini temenku Zaka. Zaka ini Zela. Dia anak baru di sekolah ini,” kata Adrian.
                “Cie nama kita sama-sama berawalan “Z” ya! Jodoh dong, aku Zaka Aufandar Alim,” katanya sambil mengulurkan tangan.
                “Oh Zaka, aku Zela Anastasya Wisk. Iya aku anak pindahan di sini,” aku membalas uluran tangannya, namun dicegah oleh Adrian.
                Bel berbunyi, pertanda pelajaran pertama dimulai.
                “Udah cukup kenalannya, udah bel noh. Menyingkirlah Zaka! Tuan putrinya Ian mau lewat,” lirik Ian sinis.
               
                Ian membawaku ke kelas, namun sepertinya aku telah ditipu.
                “Ruangannya masih jauh? Kayaknya kita udah lewat sini tiga kali deh,” tatapku kesal.
                “Maaf ruangannya di atas sayang, aku hanya memperkenalkanmu daerah kekuasaanku,” ucapnya sok.
                “ADRIAAANNN!! Masuk kelas. Ini adalah jam pelajaran,” teriak seorang guru yang mengetahui kami berjalan berdua di lorong.
                Kamipun memenuhi perintah tersebut, dengan tergesa-gesa Ian menggandengku dan mengajakku berlari untuk menjauhi sumber suara tersebut. Deg-degan rasanya. Baru juga pindah, udah bolos pelajaran pertama dan parahnya aku tidak sendirian. Aku bersama seseorang yang menyebalkan! Adrian!! Awas ya kamu! Di tengah lamunanku, tiba-tiba seseorang yang sedari tadi bersamaku sudah sangat jelas di depan mataku. Semakin dekat, hidungnya yang mancungpun bersentuhan dengan hidungku. Bibir kami sudah sangat dekat. Bahkan telah menyentuh. Apa aku mimpi?