Saat
aku berjalan di lapangan basket pagi tadi, ada seseorang yang memperhatikan
aku. Oh bukan, dia tidak sendirian rupanya, dia bersama beberapa orang lainnya.
Seseorang yang berada di paling depan itu sepertinya lumayan, mungkin dia
adalah kapten basket di sekolah baruku ini. Maklum saja, dia sepertinya tidak
bisa lepas dengan benda yang berada di tangannya. Ya, bola basket!
“Pagi
CANTIK! Apa kabar? Anak baru ya? Kenalkan namaku Adrian,” sapa lelaki yang
berada di barisan paling depan itu.
Aku
melihat di sekelilingku, namun rupanya tak ada seorangpun selain kami. Apa dia
bicara padaku? Ah dia mungkin hanya iseng. Eits, tapi jika dia tidak berbicara
padaku lalu kepada siapa? Kalau saja dia berbicara padaku, akan ku tampar dia!
Beraninya memanggilku seperti itu. Nggak tahu diri banget. Langkahku semakin
cepat, namun sepertinya ada suara seseorang berlari.
“Hai,
selamat pagi. Aku berbicara padamu. Kenalkan aku Adrian Adji Febriansyah, maaf
jika aku menyapamu begitu tadi. Aku merasa asing, sepertinya aku baru kali ini
melihatmu,” katanya sopan.
“Kamu
tadi menyapaku? Oh maafkan aku. Aku Zela Anastasya Ways. Iya tak apa,” balasku
ramah.
“Panggil
aja Ian, aku anak kelas XI-IPA, kapten basket, dan calon menantunya bapak
presiden 2025,” katanya panjang lebar.
“Panggil
aku apa aja,” balasku bosan tak menghiraukan.
“Sayang
nggak papa dong? Eaa,” teriaknya, sambil menjulurkan lidah ke wajahku.
“Haha,
dasar kamu. Hm, boleh antar aku ke kelas XI-IPA 3 nggak?,” tawaku lepas.
“XI-IPA
3? Kamu kelas itu kah?,” balasnya ingin tahu.
“Iya,
buruan dong. Aku bosan di sini,” tuntutku.
“Yeay,
kita sekelas!!!!” teriaknya heboh.
“Ayo
sayang!” kataku kesal.
“Apa?
Kamu bilang apa barusan?” katanya lagi.
“Ih
buruan, ya udah deh kalau nggak mau. Aku bisa sendiri,” kataku malas.
“Iya
aku antar, lewat sini tuan putri,” tuturnya norak.
“Ah
dasar kamu!,” kataku dengan senyum tipis.
Saat
kami berjalan menuju ruang kelas XI-IPA 3 tiba-tiba Ian menggenggam tanganku.
Aku sontak terdiam dan menatapnya lekat-lekat. Aku ingin menuntutnya, aku tidak
ingin diperlakukan semena-mena dengan seseorang yang baru aku kenal tadi pagi.
Dan ingat, semua rayuannya nggak mempan!
“Woi
IAANNN!! Kemana aja sih lu? Gue nyariin lu kali,” teriak seseorang. Sontak
kamipun sadar lalu aku melepas genggaman tangan seseorang yang sedari tadi ada
di hadapanku itu.
“Ya lu
sih nggak ngabarin gue!” kata Adrian dengan nada tinggi, sedikit salah tingkah.
“Oke
deh. Eh siapa nih? Cantik, bohay lagi. Kok lu nggak ngenalin ke gue sih? Kita
kan udah sahabatan lama. Dasar lu ah! Beginian aja cepet!,” bisik seseorang itu
kepada Adrian.
“Hm,
Zela ini temenku Zaka. Zaka ini Zela. Dia anak baru di sekolah ini,” kata
Adrian.
“Cie
nama kita sama-sama berawalan “Z” ya! Jodoh dong, aku Zaka Aufandar Alim,”
katanya sambil mengulurkan tangan.
“Oh
Zaka, aku Zela Anastasya Wisk. Iya aku anak pindahan di sini,” aku membalas
uluran tangannya, namun dicegah oleh Adrian.
Bel
berbunyi, pertanda pelajaran pertama dimulai.
“Udah
cukup kenalannya, udah bel noh. Menyingkirlah Zaka! Tuan putrinya Ian mau
lewat,” lirik Ian sinis.
Ian
membawaku ke kelas, namun sepertinya aku telah ditipu.
“Ruangannya
masih jauh? Kayaknya kita udah lewat sini tiga kali deh,” tatapku kesal.
“Maaf
ruangannya di atas sayang, aku hanya memperkenalkanmu daerah kekuasaanku,”
ucapnya sok.
“ADRIAAANNN!!
Masuk kelas. Ini adalah jam pelajaran,” teriak seorang guru yang mengetahui
kami berjalan berdua di lorong.
Kamipun
memenuhi perintah tersebut, dengan tergesa-gesa Ian menggandengku dan
mengajakku berlari untuk menjauhi sumber suara tersebut. Deg-degan rasanya.
Baru juga pindah, udah bolos pelajaran pertama dan parahnya aku tidak
sendirian. Aku bersama seseorang yang menyebalkan! Adrian!! Awas ya kamu! Di
tengah lamunanku, tiba-tiba seseorang yang sedari tadi bersamaku sudah sangat
jelas di depan mataku. Semakin dekat, hidungnya yang mancungpun bersentuhan
dengan hidungku. Bibir kami sudah sangat dekat. Bahkan telah menyentuh. Apa aku mimpi?